10 Orang Tewas dalam Protes Anti-Rezim di Seluruh Iran

Setidaknya 10 orang tewas dalam protes di seluruh Iran, kata seorang pejabat negara Iran pada hari Senin (01/01/2018) seperti dikutip Anadolu Agency pada hari yang sama.

Anggota parlemen Hedayatollah Khademi mengatakan dua orang terbunuh di Izeh, sebuah kota yang terletak di barat daya provinsi Khuzestan pada hari Ahad malam, menurut Kantor Berita Tenaga Kerja Iran, yang menjadikan total korban tewas mencapai 10 jiwa.

Juga terjadi penangkapan atas 377 orang  – 200 orang dari Ibu Kota Teheran – selama protes-protes itu.

Penangkapan lain dilaporkan juga dilakukan di Arak, Isfahan dan Robat Karim, dan di Provinsi Azerbaijan. Ribuan warga Iran pada hari Kamis turun ke jalan-jalan di Mashhad dan Kashmar, kota-kota di timur laut negara itu,   untuk memrotes kenaikan harga barang-barang dan  kesalahan manajemen pemerintah yang mereka rasakan, menurut laporan-laporan media lokal.

Protes dan kerusuhan pecah dimulai ketidakpuasan yang meningkat atas kenaikan harga dan dugaan korupsi, serta kekhawatiran akan campur-tangan Iran dalam perang di Suriah dan Iraq.

Protes-protes hari Kamis itu dilanjutkan oleh protes-protes yang pro-pemerintah pada hari Sabtu.

Presiden Iran Hassan Rouhani pada hari Ahad memperingatkan warga Iran untuk melawan protes anti-pemerintah dan anti mullah (istilah untuk ulama Syiah) yang berkelanjutan di seluruh negara itu.

“Kita harus mencegah  negara berada dalam situasi di mana musuh dapat mengambil keuntungan,” kata Rouhani, setelah rapat kabinet.

Wakil Gubernur Provinsi Lorestan, Habibollah Khojastehpour,  dalam sebuah wawancara di televisi pemerintah  menampik adanya korban dan lebih menyalahkan kelompok lain.

“Tidak ada tembakan yang dilepaskan oleh polisi dan pasukan keamanan. Kami telah menemukan bukti musuh revolusi, kelompok takfiri dan agen asing dalam bentrokan,”  sebagaimana dikutip AFP.

Istilah takfiri kerap digukan kelompok Syiah kepada kelompok Sunni anti Syiah. Juga disematkan Syiah kepada kelompok ISIS).

Di twitter beredar aparat polisi Iran sedang menjarah dan menghancurkan properti untuk menuduh seolah pengunjuk rasa menghancurkan properti pribadi dan membenarkan kejahatan mereka.

Untuk menanggapi unjuk rasa di berbagai kota, pemerintah Iran menyatakan akan membatasi akses terhadap aplikasi pengirim pesan Telegram dan Instagram. Selain itu, muncul sejumlah laporan tentang kehilangan akses internet di sejumlah wilayah.

Sumber : Hidcom