Aksi Damai Bela Islam II mengetuk beberapa kalangan khususnya mata dunia, bahwa Islam sangat beradab dan tidak anarkis. Harta, hidup dan mati kami hanya untuk Allah.

Kesebelas, masyarakyat kecil mengeruk keuntungan. Warga yang berjualan saat itu untung besar karena barang dagangannya laku keras, terutama makanan/minuman dan atribut islam seperti kopiah (QS. Al An’aam:52-53).

Keduabelas, fathul mekkah (pembebasan Mekkah) hadir kembali. Maksudnya adalah momentumnya mirip dengan situasi pembebasan mekkah dari kuasa kaum kafir ke tangan kaum muslimin dulu. Kesamaannya adalah jumlahnya yang banyak namun tidak ada kekerasan (QS. An Nashr: 1-2).

Ketigabelas, cinta yang besar kepada Ulama dan Habaib dalam membela Islam dan negara. Hal itu dapat dibuktikan dengan kesabaran dan ketaatan pada komando peserta aksi saat itu. Mereka tidak melanggar konstitusi dan menuntut keadilan agar negeri tercinta tidak terkotori oleh pemecah belah NKRI.

Keempatbelas, prediksi luput Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) soal kondisi cuaca 4 November 2016. Katanya, akan turun hujan lebat dan gemuruh petir tapi tidak terjadi. Parahnya, untuk menurunkan hujan ternyata saat itu ada pihak (pawang hujan) yang sengaja diterjunkan untuk “memanggil” hujan, tapi lagi-lagi gagal. Kabar ini didapat dari pihak GNPF-MUI sendiri. Bahkan cuaca saat itu dapat dikatakan tidak panas karena matahari yang ditutupi awan selama aksi berlangsung. Dan muncul tanda kuasa Allah saat awan membentuk lafadz “Allah.” Subhanallah. Hal ini diluar jangkauan BMKG dan pawang hujan, namun bagi orang beriman hal ini wajar terjadi, karena mereka beriman kepada yang ghaib bukan percaya kepada praduga dan muslihat manusia. (QS. Al Baqarah: 2-3).

Kelimabelas, saat pasukan kepolisian tidak mendengarkan instruksi. Rupanya aksi “411” tidak hanya umat Islam yang perlu muhasabah, namun kepolisian RI juga perlu perbaikan. Dapat dibayangkan aparat yang melakukan “pembantaian” dengan menembakkan peluru karet dan gas air mata ke tengah-tengah massa. Mereka tidak mendengarkan instruksi langsung oleh Kapolri Tito Karnavian dan Jenderal Gatot Nurmantyo melalui pengeras suara sehingga penembakan tetap berlangsung. Kenapa disebut pembantaian? Karena tindakan tersebut dilakukan di tengah jutaan massa yang bergerak pun susah apalagi lari, saling berebut oksigen dan ditembakkan secara bertubi-tubi. Sepertinya ada black command (perintah terselubung) yang memerintah aparat terus menembak di tengah massa yang sedang berdoa dengan khusyu’ (QS. Al Hasyr: 14).

Keenambelas, mewangi aroma tanda syahid. Secara ringkas, mati syahid adalah mati membela Allah/Islam. Adanya provokator aksi “411” memakan korban jiwa. Mudah-mudahan mereka yang meninggal dihitung sebagai syuhada karena mereka membela Islam dan kamilah saksinya. Aamiin (QS. An-Nisaa’: 74).

Ketujuhbelas, istighfar pasca aksi. Tidak dipungkiri bahwa setiap momen kehidupan yang dilalui hamba Allah pasti ada kesalahan baik disadari atau tidak, karenanya wajib setiap muslim dalam menjelang ditutupnya suatu acara memuji dan memohon ampun kepada Allah. Dalam “411” kumandang istighfar, tasbih dan takbir bergemuruh dari awal hingga berakhirnya aksi (QS. An Nashr: 3).

Masih banyak lagi tanda kemenangan dan hikmah dalam Aksi Damai Bela Islam ini. Wallahua’lam bishshowaab.

Ed: Tamam