Rakhine – Ali Husein bersama dengan lima anggota keluarganya sedang menunggu bus di daerah Hoyaikong di jalan raya Teknaf-Pasar Sapi, Rakhine, Myanmar sekitar tengah hari kemarin, (20/11/2016). Dia ditemani oleh ibunya Jahera Begum, adiknya Halima Khatun dan dua anak-anak Halima. Mereka akan menuju ke rumah kerabat mereka di sebuah desa di wilayah Chakoria Upazila.

Tapi ada cerita tentang rasa sakit dan penderitaan yang tersembunyi, meskipun tampaknya biasa. Ali Husein adalah Muslim Rohingya, yang sering disebut salah satu kelompok minoritas yang paling teraniaya di dunia.

Pria berusia 30-tahun itu mengatakan bahwa sebelum fajar, sekitar 15 warga negara Myanmar termasuk keluarganya menyeberangi sungai dengan perahu kecil dan memasuki Bangladesh melalui titik perbatasan Lombabeel di distrik Cox Bazar.

Mereka berasal dari daerah Kuikkhali di Maungdaw, Rakhine State, Myanmar.

Ali mengatakan, ia bersama dengan anggota keluarganya melarikan diri ke rumah untuk menghindari penyiksaan oleh tentara Myanmar.

Tak hanya Ali, Moulawii Syed Karim dari daerah Raimmya Ghona dan Habibullah dari Keyari Para, merupakan dua Muslim Rohingya lainnya yang kabur dari kampung halamannya karena alasan yang sama -menghindari penganiayaan.

Bersama dengan kerabat mereka, mereka masuk Bangladesh melalui titik perbatasan Jhimongkhali Hoyaikong, pada Jumat.

“Tentara Mynamrese membakar rumah-rumah kami dan membunuh saudara-saudara kami,” cerita Habibullah.

Nazma Begu, (30 tahun), istri dari Kamal Hossain dari daerah Jambunia, mengatakan, “Kami telah meninggalkan rumah untuk menyelamatkan hidup kita.”

Nur Begum, Shahnur dan Shomila Begum, yang berasal dari Roigyadong, mengatakan mereka masuk ke Bangladesh melalui titik perbatasan Leda. Mereka menuturkan bahwa kaum laki-laki diculik dari rumah mereka.

Menurut sumber setempat, banyak orang Rohingya mencoba masuk sejak Jumat tinggal di sebuah kamp Rohingya terdaftar di desa Leda, wilayah Hnila, Teknaf.

Warga Rohingya mencoba untuk melarikan diri dari tindakan keras militer setelah eskalasi kerusuhan baru meningkat di negara bagian Rakhine.

Mereka menceritakan bahwa beberapa dari mereka telah ditembak mati saat mencoba menyeberangi sungai perbatasan Myanmar dengan Bangladesh.

Reuters melaporkan bahwa tentara Myanmar telah diterjunkan ke utara Rakhine sepanjang perbatasan Myanmar dengan Bangladesh. Hal tu dilakukan untuk menanggapi serangan oleh militan Muslim ke pos perbatasan pada tanggal 9 Oktober silam.

Militer Myanmar telah mengurung sejumlah distrik, di mana sebagian besar penduduk Muslim Rohingya menetap, menurut laporan para pekerja bantuan dan pengamat independen.

Hingga 30.000 orang telah mengungsi akibat kekerasan di Rakhine, menyusul insiden yang terjadi pekan lalu ketika puluhan orang tewas dalam bentrokan dengan militer, kata PBB pada Jumat.

Ed : Muttaqin | Kiblat.net | Rohingyablogger.com