Pulau Takera mengapung di seberang Darmaga Oeba Kota Kupang, NTT, dihuni 78 keluarga atau 315 jiwa yang semuanya muslim dan dhuafa.
 

 

 

Menurut salah seorang tokoh setempat, Naseng Rabbani, nenek moyang mereka dari suku Bajo sudah menghuni Pulau Takera sejak 1911.

 

 

 

‘’Nenek moyang kami dari suku Bajo Sulawesi Tenggara, datang ke sini atas undangan Raja Kupang Nesneno untuk mengajari masyarakat berlaut,” tutur Rabbani.

 

 

 

Para pelaut Bajo lalu mendiami Pulau Takera, berdasarkan prinsip “di mana ikan bagus untuk dijemur, di situlah mereka berdiam”. Takera memang sangat bagus untuk menjemur apa saja termasuk ikan. Sejak pukul 7 pagi saja, pulau ini sudah sangat menyengat panasnya.

 

 

 

Walau berjasa secara historis, hingga kini warga Pulau Takera tidak memiliki status kependudukan, meskipun secara administratif pulau ini termasuk wilayah Kota Kupang. 

 

 

 

Ustadz Ramli, Da’i Dewan Da’wah di NTT, mengatakan, selama ini Dewan Da’wah dan ormas Islam Kupang terus membina warga Pulau Kera. ‘’Persoalan umat di sini adalah minimnya papan, air bersih, listrik, dan sarana pendidikan,’’ ungkapnya. ‘’Mereka korban pemiskinkan secara struktural,’’ tandasnya.

 

 

 

Para nelayan itu dimodali tauke Kupang untuk melaut, tapi hasilnya hampir semua untuk si tauke. Melaut tiga hari berturut-turut dengan awak 4 orang, paling banter masing-masing nelayan mendapat Rp 50 ribu atau senilai dengan 25 jirigen (500 liter) air tawar yang harus mereka beli di Kupang. Itu lantaran kalkulator usaha nelayan berada sepenuhnya di tangan tauke.

 

 

 

Sekolah formal masih jadi kemewahan buat generasi belia Pulau Takera. Namun belakangan ini beberapa remaja Takera mulai keluar pulau untuk melanjutkan sekolah ke Kupang dengan beasiswa dari Dewan Da’wah Islamiyah, Hidayatullah, MUI, dan Bazda NTT. (MR/bowo)