Kehadiran ADI sebagai program kaderisasi da’i merupakan salah satu dari tiga program unggulan Dewan Da’wah periode 2010-2015, di samping program penguatan organisasi da’wah dan kemandirian dana da’wah. Tujuan utama pendirian ADI untuk mengembangkan program pendidikan da’wah bagi para calon da’i seluruh wilayah Nusantara dalam sebuah program pendidikan yang khas. Kekhasan pendidikan tersebut tercermin dari orientasi pendidikan yang mengarah kepada penguatan intergritas sebagai da’i illallah, penguatan ulum ad din dan ulum ad da’wah, di samping itu, program ini juga untuk menjawab kebutuhan da’i yang belum berimbang antara jumlah penduduk dengan jumlah da’i. karena Dewan Da’wah meyakini bahwa, sekalipun ada da’i sejauta ummat, satu da’i tidak cukup untuk sejuta ummat.

Dalam mewujudkan tujuan tersebut Dewan Da’wah Aceh juga mendirikan Akademi Da’wah Indonesia (ADI Aceh) sesuai dengan mandat yang diberikan oleh Dewan Da’wah pusat. ADI Aceh mensinergikan tujuan di atas dengan keilmuan lokal yang berkembang di Aceh seperti yang telah berkembang di dayah manyang (Ma’had ‘Aly) yang ada di Aceh. Di samping itu, kehadiran ADI Aceh dapat menjadi lembaga penguat dan penyokong percepatan penegakan Syariat Islam dan menjadi warna baru dalam  dunia pendidikan di Aceh.

Akademi Da’wah Indonesia (ADI) Dewan Da’wah Aceh yang saat ini berusia 6 bulan, kembali menggelar proses belajar mengajar untuk semester genap tahun ajaran 2015. Proses perkuliahan untuk semester genap tahun 2015 resmi dimulai pada tanggal 2 Februari 2015. diawali dengan pengumuman hasil akademik dan pemberian hadiah untuk 3 mahasiswa berpretasi, masih-masing M. Yusuf (dari Tamiang), Sedar Tarigan dan Mukhsin Nyak Ampun (dari Subulussalam) oleh Sekretaris ADI, Dr. Abizal Yati, Lc, MA.

Kuliah perdana secara resmi dibuka oleh Dr. Muhammad AR.,M.Ed selaku Direktur dan diiringi dengan studium general (kuliah umum) oleh Dr. H. A. Mufakhir Muhammad, MA, salah seorang masjlis syura Dewan Da’wah Aceh, dengan topik “Teknologi Da’wah”. Dalam materinya Dr. Mufakhir menjelaskan bahwa da’i yang cerdas harus menguasai teknologi da’wah, dan yang dimaksud dengan teknologi da’wah di sini bukan berarti sebatas menguasai komputer, presentasi materi dengan projector, tetapi menguasai dan tahu batasan-batasan suatu ilmu atau materi yang dida’wahkan. Jadi seorang da’i harus tekno, cerdas, tahu sumber, batasan suatu persoalan, yang dalam istilah lain disebut dengan At-tahaddi. Ini nanti secara mendetail akan dipelajari dalam kuliah-kuliah berikutnya, sehingga out putnya da’i alumni ADI akan menjadi probem solver (pemberi solusi) bagi ummat bukan sebaliknya menjadi path of problem (bagian dari masalah) dalam hidup dan kehidupan ummat, demikian Tgk. Mufakhir menutup kuliah umumnya.

Memasuki semester genap tahun ajaran 2015, mahasiswa ADI akan dibimbing khusus dengan program tahfidh kerjasama antara AMCF (Asia Muslims Charity Foundation) dengan Dewan Da’wah Aceh, yang memfasilitasi satu orang ustadz tahfidh, yakni Ustadz. Muhammad Ihsan,Lc, untuk membimbing mahasiswa. Setelah 2 tahun di ADI, mahasiswa ini akan melanjutkan ke jenjang Sarjana di STID Mohammad Natsir di Jakarta, tentunya harus lulus seleksi dan mampu bersaing dengan mahasiswa ADI dari provinsi lain seluruh Indonesia, mengingat program ini sangat terbatas formasinya dan bagi mahasiswa yang lulus disediakan beasiswa, sejak dari ADI sampai dengan di STID Mohammad Natsir. (red)