‘’Mimpi! Nggak bakal keluar airnya!’’ Demikian cibiran yang menghujani Tyepmin Munthe ketika pengeboran sumur di Masjid Arrahman dimulai awal September lalu.

Masjid yang dibangun Dewan Dakwah pada 1994 itu berlokasi di Jalan Raya Sidikalang km 7.5 Desa Sungai Raya, Kec Siempat Nempu Hulu, Kab Dairi, Sumatera Utara.

Sayangnya, rumah ibadah yang letaknya strategis di jalan lintas Kecamatan Sidikalang-Tigalingga, itu tidak memiliki sumber air. Sehingga, air wudhu mengandalkan air hujan yang ditampung di bak.

Maklumlah, Kabupaten Dairi termasuk dataran tinggi. Tidak mudah menemukan sumber air dalam di daerah ini. Karenanya, warga di sekitar Masjid Arrahman yang berjumlah kurang lebih 50 KK juga memanfaatkan air galon dan hujan.

Mengingat pentingnya sumur untuk memakmurkan Masjid Arrahman, LAZIS Dewan Dakwah menyetujui permintaan Tyepmin Munthe, ketua DKM Arrahman Sungai Raya. Dana wakaf sumur ini berasal dari Keluarga (alm) Nasar Balfas, donatur LAZIS Dewan Dakwah.

Di bawah pesimisme dan cibiran sebagian warga sekitar, pengeboran sumur dimulai jelang Idul Adha 2016.

Alhamdulillah, persis pada Idul Qurban, Senin, 12 September 2016, sumur sedalam sekitar 70 meter itu mengalirkan air. Hasil ini didapat setelah lubang pertama pengeboran nihil.

Girang nian anak-anak murid ngaji Tyepmin Munthe menyambut kucuran air dari dalam bumi. ‘’Horeee…,’’ seru mereka sambil basah-basahan mandi di kubangan air dari sumur tersebut.

Yang paling bahagia tentu saja Tyepmin Munthe. Ia dengan tegak kepala mengajak warga sekitar untuk ke masjid guna memotong qurban berupa dua ekor kambing.

Namun, enam jam kemudian, tiba-tiba aliran air sumur berhenti. Pet, mati sama sekali, walaupun mesin pompa air tetap menyala.

‘’Mati aku,’’ batin Tyepmin Munthe. Bukan hanya kehilangan muka yang membuatnya sedih, lebih dari itu ia nelangsa karena gagal menyediakan air wudhu untuk masjid. Ketiadaan air inilah yang selama ini mengecewakan musafir pelintas jalur Sidikalang-Tigalingga yang bermaksud sholat di Arrahman.

Rupanya, deposit air di dasar sumur itu memang terbatas. ‘’Harus kita gali lagi dengan sumur celup hingga mencapai aliran sungai tanah. Tentu tambah biaya,’’ ungkap Tyepmin Munthe menirukan pengebor.

The show must goes on. Hingga akhirnya, pada lubang ketiga pengeboran, barulah air sumur mengalir lancar. ‘’Debitnya 20 liter permenit, termasuk sedang. Alhamdulillah,’’ lapor Tyepmin Munthe pada 6 Oktober lalu.

Dengan terbata-bata menahan tangis bahagia, guru ngaji yang berprofesi sebagai petani dan peternak itu menyampaikan terima kasih atas wakaf sumurnya. ‘’Insya Allah, masjid kami akan semakin makmur,’’ katanya.[nurbowo]