IMG-20160714-WA0000

wangerrard.com

Alangkah bahagianya umat muslim saat menyambut kedatangan Ramdhan, bulan shiyam yang di dalamnya terdapat banyak keutamaan serta kewajiban untuk menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi kualitas atau membatalkan ibadah puasa.

Namun, pernahkah kita berpikir kenapa puasa kita dari tahun ke tahun serasa sama saja atau hambar? Atau timbulnya semangat ibadah saat Ramadhan dan menurun ketika sudah lewat, bahkan parahnya selain adanya penurunan kuantitas ibadah, Ramadhan oleh sebagian orang dengan berpegang pada hadits dho’if berdalih dirinya akan mendapat pahala, semakin lama tidur semakin banyak pahala yang didapat.

إِذَا قُمْتَ فِى صَلاَتِكَ فَصَلِّ صَلاَةَ مُوَدِّعٍ

“Jika Engkau mengerjakan sholat, maka sholatlah seperti sholatnya orang yang akan berpisah (dengan dunia)”.

Hadits yang diriwayatkan oleh beberapa perawi (salah satunya Imam Ibn Majah) dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani (Silsilah Ahaadits Shahihah no. 401) ini mengajarkan kepada kita bahwa kualitas suatu ibadah akan mencapai titik maksimal saat seorang hamba menunaikannya seolah-olah ibadah tersebut adalah yang terkahir sebelum kematian menjemput.

Maka setiap kali melakukan ibadah usahakan menyadari bahwa kematian adalah misteri ilahi yang tidak ada ilmuwan pun di dunia yang dapat menguaknya. Oleh sebab itu alangkah baiknya pribadi muslim yang tidak cari mati tapi sadar ajalnya dapat datang kapan saja. Seperti halnya yang telah Rasulullah telah ajarkan melalui Firman-Nya: “Setiap yang bernyawa pasti akan mati…” (Ali ‘Imran: 185).

Seperti halnya shalat yang akan membentuk menjadi pribadi anti kemungkaran dan gemar mengajak pada kebaikan, maka puasa pun memiliki tujuan tersendiri.

Mungkin sebagian orang bertanya-tanya kenapa meskipun shalat sudah rutin ditegakkan tapi tetap saja kelakuannya tidak seperti yang syariat harapkan? Pertanyaan ini haruslah ditujukan pada diri masing-masing karena Allah tidak menurunkan syariat kecuali sudah sempurna tanpa cacat. Demikian halnya dengan shiyam, Allah bertujuan kepada setiap pelakunya agar menjadi hamba yang bertaqwa atau pribadi yang meninggalkan segala larangan-Nya tanpa toleransi dan menaati segala perintah-Nya sesuai kemampuan masing-masing.

Dua penyakit yang senantiasa hadir saat puasa adalah lelah saat puasa dan lelah setelah berbuka disebabkan kekenyangan, sehingga malas menuju ke masjid untuk shalat tarawih. Mudah-mudahan kita terhindar dari penyakit yang kedua.

Mari berpikir sekali lagi, sudahkah puasa dan ibadah kita lainnya dijadikan sebagai prioritas atau hanya sekedar formalitas? Sembari menunggu bulan Ramadhan berikutnya mari berlatih dari sekarang dengan puasa-puasa Sunnah yang berkualitas.[kanzen]

Sumber tambahan: Bunga Rampai Ajaran Islam 12 // Penerbit: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia // 1990.