As-Sunnah dan Kedudukan As-Sunnah

Oleh : Muhammad Isa Anshori

Jika kita mendengar tentang kata “sunnah”, tentu dalam anggapan kita adalah segala sesuatu yang mana jika dilakukan/dikerjakan akan memperoleh pahala namun jika kita tinggalkan juga tidak apa-apa (tidak mendapat dosa). Jawaban tersebut memang benar adanya, khususnya dalam bidang fikih. Sunnah adalah segala sesuatu berasal dari Rasulullah SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, tingkah laku, dan lain sebagainya.

As-Sunnah menurut ulama fikih adalah apa yang bersumber dari Rasulullah SAW selain Al-Qur’an, baik berupa perkataan, perbuatan, atau pengakuan Beliau. Sedangkan menurut ulama Hadits, As-Sunnah adalah apa yang disandarkan kepada Rasulullah SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pengakuan, sifat, ataupun sirah Beliau.

As-Sunnah adalah Al-Qur’an, artinya jika kita menghadapi sebuah masalah, maka kembalikanlah kepada Al-Qur’an, namun jika tidak menemukannya di dalam Al-Qur’an, barulah kita mencari di sunnah Beliau. Dalam hal ini, kedudukan Al-Qur’an adalah Qhat’I, sedangkan As-Sunnah adalah Dzanni. Qhat’I haruslah didahulukan di atas Dzanni. Jadi sudah jelas bahwasanya kedudukan As-Sunnah di bawah kedudukan Al-Qur’an. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Khulafa urasyidin, ialah Abu Bakar As-Shiddique dan Umar ibn Khattab.

Keberadaan “As-Sunnah” digunakan sebagai lawan dari “Al-Bid’ah” secara mutlak. Jika As-Sunnah adalah segala hal yang berasal dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri, sedangkan Al-Bid’ah ialah sebaliknya. Al-Bid’ah adalah segala sesuatu yang sifatnya baru dalam agama yang tidak ada tuntunan maupun contoh dari Rasulullah SAW.

Sunnah Rasulullah sejatinya didukung oleh beberapa hal yang membuat kita semakin yakin untuk melaksanakannya. Yang pertama adalah dalil-dalil yang kuat mengenai perintah Allah SWT untuk hamba-Nya agar meneladani perbuatan Rasul. Dalam Surat Al-Hasyr ayat 7 Allah SWT berfirman, “Dan apa yang telah Rasul berikan kepada kalian maka ambilah, dan apa yang telah Rasul larang bagi kalian maka tinggalkanlah.”.  Kemudian dalam An-Nisa ayat 59 Allah SWT berseru, “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul.”. Dari dua dalil ini, jelas bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya agar senantiasa mengikuti Sang Rasul. Hal ini mengindikasikan bahwa orang yang mengikuti Rasul, juga berarti menjalani perintah Allah SWT.

Meskipun begitu, masih banyak saja orang-orang yang mencari “celah” dengan membantah Sunnah Rasulullah. Mereka berdalih dengan dalil lainnya untuk menjatuhkan As-Sunnah. Salah satunya mereka memakai surat Al-Maidah ayat 3 yang berbunyi : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku sempurnakan atas kalian nikmat-Ku dan telah Aku ridhoi bagimu Islam sebagai agama.”. Ayat tersebut merupakan ayat terakhir yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Mereka beranggapan bahwa segala yang ada di dalam Al-Qur’an sudahlah cukup untuk dijadikan pedoman dalam hidup tanpa harus ditambah lagi dengan selain darinya, termasuk As-Sunnah. Padahal mereka tak sadar bahwa tata cara shalat yang mereka kerjakan saat ini adalah Sunnah Rasulullah SAW.

Maksud dari ayat tersebut jika dikaji lebih mendalam adalah Allah telah sempurnakan bagi hamba-Nya apa yang hamba-Nya butuhkan berkaitan dengan dasar-dasar halal dan haram serta kaidah-kaidah yang dapat mengatur semua segi kehidupan. Dan harus ditekankan, bukan berarti semua hukum telah dijelaskan secara detail dan rinci. Tanpa sunnah, kita tidak akan mengerti bagaimana cara mengerjakan shalat, cara berzakat, cara berpuasa, cara berhaji, dan lain sebagainya yang memang tidak tertuang penjelasannya didalam Al-Qur’an. Dengan kata lain, As-Sunnah merupakan “komplementer” dari Al-Qur’an. Artinya sunnah kuat kedudukannya sebagai pelengkap dari Al-Qur’an. Pelengkap di sini bukan berarti menambah apa yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, melainkan merinci atau menjabarkan segala susuatu yang tidak tertuang dalam Al-Qur’an. Wallahua’lam.