Merebaknya kaum lesbian dan homoseks membuat resah orang tua terhadap anak-anak didiknya karena dalam pikiran anak usia dini mereka hanya bisa menyerap dan menerima comfort zone (zona nyaman) dan akan ketagihan jika beruntun dilakukan.

Layaknya kelompok liberal, kaum lesbian dan homoseks memperindah kata-kata buruk menjadi elok dilihat tak lain tujuannya adalah untuk membiasakan sikap dan tindakan mereka hingga akhirnya animo masyarakat menjadi posistif atau setidaknya menganggap biasa saja.

Lahirlah istilah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender) untuk meredam dan menghilangkan kata “bencong, banci, homo, waria, tomboy” dan gelar-gelar buruk lainnya.

Gerakan mereka semakin berani tatkala peminat bertambah banyak dari kelas universitas sampai anak usia dini.

Sebuah akun Twitter @gaykids_botplg telah menggegerkan dunia maya. Sampai Januari 2016, pengikutnya sudah tembus 3.032 orang. Komunitas bocah ‘bau kencur’ ini mulai berani terang-terangan mempublikasikan diri mereka sebagai homo. Namun Alhamdulillah hashtag itu sudah diblokir oleh administrator.

Namun meskipun sudah diblokir masih banyak akun atau hashtag yang menyerupainya. Tidak hanya itu situs internet, aplikasi android, seminar, kegiatan berbungkus sosial, humanis dan ilmiah juga menjamur layaknya air bak yang tak bisa dibendung.

Pembaca bisa menyaksikan hari ini aksi yang marak mereka lakukan seperti halnya demonstrasi tak lain dalam rangka sosialisasi dan komunikasi bahwa LGBT bukanlah hal yang perlu dihindari dan bukan juga penyakit yang bisa menular.

Sebagai orang tua wajib kiranya mengawasi anak dari berbagai hal yang bisa menjerumuskan kepada jalan sesat LGBT ini. Dimulai dari hal kecil seperti dengan siapa mereka bermain, pantau selalu gadget mereka atau fasilitasi ponsel minim fitur, perhatikan cara berpenampilan dan lain sebagainya.

Metode tarbiyatul aulad (cara membimbing anak) ala Rasulullah patut dicontoh, seperti menyuruh anak sholat ketika umurnya mencapai 7, memisahkan tempat dan ruang tidur dengan ketika berumur 10 tahun, mengajari memanah, berenang, berkuda dan lain sebagainya.

Teruslah pantau anak anda hingga benar-benar sadar bahwa yang laki-laki adalah laki-laki yang menyukai perempuan dan yang perempuan adalah perempuan yang menyukai laki-laki sehingga pada akhirnya mereka tidak akan melenceng dan merubah fitrah yang Allah berikan.

Sumber tambahan:

http://www.kiblat.net/2016/02/01/awas-lgbt-menyasar-anak-di-bawah-umur/

http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/02/08/o26z9o336-selamat-lgbt-berhasil

thefederalist.com/wp-content/uploads/2015/03/shutterstock_142826356-998×665.jpg