Byurrr… air deras bagai ditumpahkan dari langit selepas maghrib di Kampung Garung, Desa Sindang Mandi, Kec Anyer, Kab Serang, Banten, tatkala hujan deras mengguyur, Ahad (24/07). Hujan terus menderai hingga malam, semakin lama kian mencekam, membuat kecut hati warga setempat.

Pukul 10 malam, Sungai Cipaseh makin menggeram gejolak airnya. Disusul dengan batu-batu berlongsoran dari tebing di sisi kiri-kanan kali. Ditimpali pula dengan batang-batang pohon yang hanyut di sungai yang berhulu di Gunung Pabeasan itu.

Senin dini hari, Desa Sindang Mandi terisolir akibat banjir bandang tersebut. ‘’Alhamdulillah, semua warga selamat karena sejak Isya sudah diungsikan ke kantor kecamatan yang aman,’’ ujar Ustadz Jawad, warga Garung.

Da’i Dewan Dakwah itu menuturkan, sudah tiga kali ini Garung tersapu banjir. ‘’Yang terakhir banjir terjadi tahun 2011. Tahun 2016 ini yang paling parah,’’ katanya. Bahkan Garung sempat terisolir selama 5 hari akibat akses keluar-masuk tertimbun material banjir bandang.

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah menetapkan status tanggap darurat bencana untuk Kecamatan Anyer. Bencana banjir telah menimpa sembilan desa di sini, yaitu: Sindang Mandi, Sindang Karya, Tanjung Manis, Cikoneng, Bandulu, Mekarsari, Grogol Indah, Kosambi Tonyok, dan Anyar.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Ino S Rawita, mengungkapkan, laporan sementara dari lima kabupaten/kota di Banten yang terkena banjir mengalami kerugian sekitar Rp 66,215 Milyar. Masing-masing Kab Pandeglang senilai Rp 14,8 miliar akibat banjir di 18 kecamatan, Lebak senilai Rp25,7 miliar dari 19 kecamatan, Kab dan Kota Serang Rp 21,1 miliar, dan Kabupaten Tangerang Rp 5,8 miliar.

Kerugian meliputi kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan, rumah warga, sawah, kebun, dan tambak.

BPBD Serang mencatat, banjir dan longsor di kecamatan ini menyebabkan kerusakan 1.111 rumah rusak dan puluhan di antaranya hanyut. Sebanyak 197 hektare lahan pesawahan pun rusak akibat terendam.

“Alhamdulillah, bantuan logistik sudah terpenuhi. Tapi yang kurang ditanggapi adalah bantuan pasca bencana, seperti spiritual healing dan sarana pendidikan,’’ kata Ketua Dewan Dakwah Banten Ustadz Syamsudin tatkala membesuk dan memberikan bantuan untuk Desa Sindang Mandi bersama LAZIS Dewan Dakwah, Senin (1/8).

“Yang juga perlu dibantu adalah pemulihan ekonomi warga, karena sumber mata pencaharian mereka musnah,’’ imbuh Ustadz Bahrudin, sekretaris Dewan Dakwah Serang.

Ustadz Jawad mengajak warga Banten untuk sabar dan tetap bersyukur, walau tertimpa musibah. ‘’Di balik setiap musibah, pasti ada hikmah,’’ tandasnya. Ia memberi contoh,  ribuan kubik pasir yang menutupi areal pertanian hingga gagal panen, kini menjadi sumberdaya alam gratis yang bisa dimanfaatkan warga untuk membangun sendiri maupun dijual. Demikian pula ribuan kubik kayu yang merusak rumah warga, kini bisa didayagunakan secara cuma-cuma.

Dalam kesempatan itu, LAZIS Dewan Dakwah menyalurkan bantuan berupa logistik dan peralatan sekolah. ‘’Kami juga memetakan potensi dan peluang ekonomi setempat untuk program selanjutnya, seperti program peternakan,’’ kata Ahmad Agung, Ketua Tim LAZIS Dewan Dakwah.