Persatuan sebuah umat merupakan cita-cita akhir dari sebuah aliran kepercayaan atau agama begitu pula Islam. Umat Islam tidak akan mungkin bisa bersatu ketika saat menuju persatuan tersebut melupakan satu faktor terpenting, sebagaimana disebut oleh almarhum Dr. M. Natsir dalam kryanya “Mempersatukan Ummat.”

“Pak Natsir melihat bukan semata-mat soal ilmu, harta dan materi, tapi persatuan ini adalah soal hati.” Kata Abdul Kadir Bajuber, M. Pd. I yang menjadi pembedah buku sambil mengutip ayat ke 63 dari surat Al Anfaal, Kamis (17/3/2016) di Perpustakaan Dewan Dakwah lantai tujuh.

Buku ini ditulis oleh Dr. M. Natsir dalam rangka mempersatukan ummat Islam utamanya di Indonesia, karena pada saat itu ternyata persatuan Umat Islam sudah renggang. Menurut Abdul Kadir, Natsir adalah sosok luar biasa karena pada zaman Orde Baru lah ia menulis buku yang menyoal rengganganya barisan ummat.

Abdul Kadir menambahkan banyaknya orang pintar nan cerdas tidak akan menjamin dapat kompak dalam suatu perkumpulan.

“Banyak orang pintar, tapi mereka tidak bersatu, tidak sejalan.” Katanya.

Rasulullah pernah berwasiat pada para pengikutnya bahwa ridha Allah takkan tercapai jika ridha orang tua seorang anak tak tercapai pula. Nah, berkaitan dengan ridha Allah menurut Abdul Kadir, jika umat Islam dalam menentukan tujuan hidupnya untuk mencari ridha Allah semata, maka dari situlah persatuan dapat tercapai.

“Lebih-lebih akan timbul suasana musabaqah (perlombaan) dalam mencari keridhaan.” Ujar Ketua Perpustakaan Dewan Dakwah ini.

Menurut Abdul Kadir ada 4 syarat untuk mencapai persatuan umat, yaitu pertama, Ta’aruf, adalah saling mengenal, kedua, Tafahum atau saling memahami, ketiga, Ta’awun yakni saling menolong dalam kebaikan dan keempat, Tadzomun adalah saling menjaga atau peduli.

Di sisi lain ada pendapat yang mengatakan bahwa sumber perpecahan adalah banyaknya organisasi, tapi kebalikan dari itu Abdul Kadir menjelaskan bukan karena banyaknya organisasi persatuan umat tidak tercapai.

“perpecahan itu timbul bukan karena banyaknya organisasi tapi karena berubahnya niat di pertengahan jalan (menuju persatuan).” Pungkasnya.