Kasus penghancuran Masjid At Thayyibah oleh preman-preman bayaran direktur PT. Multi Indah Lestari (MIL), Drs Beni Basri, bukan saja merupakan perampokan atas lahan dan bangunan wakaf umat Islam, akan tetapi perbuatan si kafir itu merupakan penistaan terhadap agama dan umat Islam.

 

Sungguh sangat ironis, perbuatan kriminal itu justru dibenarkan oleh MUI Kota Medan dengan fatwa sesatnya, serta didukung dan dilindungi oleh Pemerintah Kota  Medan (Satpol PP) dan aparat keamanan (Brimob Polda SU).

 

Konspirasi jahat pengusaha, penguasa, dan “ulama” dalam penggusuran masjid harus dihentikan. Akan jadi dosa berjamaah bila umat Islam bersikap apatis, dan membiarkan kejahatan itu berlanjut terus. Oleh karena itu dakwah amar makruf nahi munkar harus dioptimalkan. Mari dengan lisan dan tulisan kita menyampaikan yang benar itu benar dan yang salah itu salah, paling tidak lawanlah kemunkaran itu dengan doa dihati masing-masing. Laa takhaf wa laa tahzan, Innallaha ma’ana.

 

Demikian ringkasan buku berjudul “Forum Umat Islam (FUI) Menggugat Penghancuran Masjid At Thayyibah” yang ditulis oleh Ketua FUI Sumatera Utara Ustaz Timsar Zubil. Buku ini dibedah pada Rabu (11/3/2015) lalu di Aula Masjid Al Furqan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Jakarta. Selain Ustaz Timsar, bedah kasus Masjid yang terletak di Jalan Multatuli Medan itu juga mengha-dirkan Munarman SH (Advokat Senior) dan MS Kaban (Ketua Umum PBB) selaku pembicara.

 

Ustaz Timsar membuat buku ini untuk mensosialisasikan bahwa penghancuran masjid-masjid selama ini selain melanggar syariat Islam juga telah melanggar undang-undang wakaf yang sudah ada. “Bahkan penggusuran masjid adalah tindakan kriminal dan penistaan terhadap agama dan umat Islam,” ujar Ustaz Timsar kepada Suara Islam Onlineusai acara bedah buku tersebut.

 

Menurutnya, dari beberapa penghancuran masjid di Medan, ada juga yang sudah dibangun kembali setelah diperjuangkan, “Tetapi Masjid At Thayyibah ini belum berhasil dan sepertinya cukup berat karena adanya konspirasi jahat antara pengusaha, penguasa dan pemuka agama,” kata Ustaz Timsar.

Namun, ia dan para ulama serta masyarakat muslim di Medan akan tetap berjuang untuk mempertahankan masjid yang sudah berdiri sejak setengah abad yang lalu itu.(SI Online)