Pilkada Cagub DKI Jakarta 2017 sedang ramai diperbincangkan mulai dari hingar bingar orang di pasar hingga kelas DPR. Tak ayal masing-masing tim sukses cagub menampilkan elektabilitas sang calon yang dapat disimak oleh khalayak khususnya warga DKI.

Elektabilitas Rasulullah sebagai pemimpin tidak seperti para pemimpin saat ini yang lebih cenderung pada popularisasi pribadi. Rasulullah benar-benar sosok pemimpian ideal bagi umat manusia karena pada dirinya memiliki semua kriteria pemimpin yang dapat mengatur dan menyejahterakan rakyatnya.

Sang Rasul akhir zaman, sikap kepahlawanan dan keberaniannya yang melegenda tak gentar menghadapi musuh demi tegaknya Islam di muka bumi. Tidak hanya mengatur taktik dan strategi ia juga menjadi panglima sekaligus memimpin peperangan dalam pasukan Allah di barisan terdepan.

Diceritakan pada suatu malam di pinggiran kota Madinah sempat gempar terdengar lentingan pedang. Usut punya usut musuh Islam ingin menyerang Kota Masjid Nabi itu. Serontak segerombol tentara Rasulullah menyisiri kota mencari sumber suara gaduh pertikaian. Saat pasukan itu sampai mereka sudah mendapati Sang Nabi Ummi itu di tempat perkara, seraya berkata kepada pasukan, “Musuh sudah lari, keadaan sudah aman.”

Pemimpin Islam tidak hanya jago ekonomi, politik, hukum dan bidang kenegaraan strategis lainnya tapi dia juga mempraktekkan terlebih dahulu bahwa dirinya bisa menunjukkan pada publik keberanian mengambil sikap, keberanian membela Allah, keberanian memelihara bumi Allah.

Berbagai fakta sejarah telah diungkap oleh ahlinya, saat sejarawan mengungkap kehidupan pribadi Muhammad SAW ternyata ia adalah sosok rendah hati yang tidak gila pujian atau bisa dibilang citra dirinya sesuai dengan apa yang pada dirinya, sesuai dengan apa yang difirmankan Allah dalam kitab suciNya, sesuai dengan saksi mata para sahabatnya dalam buku-buku sejarah.

Bahkan Rasul berpesan pada para pengikutnya untuk tidak menokohkan dirinya secara berlebih-lebihan.

“Janganlah kamu menyanjungkulayaknya (cara) kaum Nasrani menyanjung ‘Isa bin Maryam alaihis Salam secara berlebihan. Aku hanyalah seorang hamba Allah, maka panggillah aku dengan sebutan: hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Daud)

Faktanya, pencitraan pemimpin dapat menjerumuskan dirinya pada resiko yang lebih besar, karena rakyat tidak akan melihat segudang jasa baiknya saat aib atau perbuatan merugikan rakyat terungkap di muka khalayak. Bersambung…