Pilkada Cagub DKI Jakarta 2017 sedang ramai diperbincangkan mulai dari hingar bingar orang di pasar hingga kelas DPR. Tak ayal masing-masing tim sukses cagub menampilkan elektabilitas sang calon yang dapat disimak oleh khalayak khususnya warga DKI.

Elektabilitas Rasulullah sebagai pemimpin tidak seperti para pemimpin saat ini yang lebih cenderung pada popularisasi pribadi. Rasulullah benar-benar sosok pemimpian ideal bagi umat manusia karena pada dirinya memiliki semua kriteria pemimpin yang dapat mengatur dan menyejahterakan rakyatnya.

Pemimpin sejati tidak cukup dengan kebijakan politik yang hebat untuk rakyatnya, namun pribadinya juga menjadi sorotan karena dari situlah akan tampak kelayakan gelar pemimpin bagi dirinya.

Rasulullah dengan segala kelebihan, dan gelar yang dimilikainya tak pernah disebutkan dalam kitab sejarah bahwa dirinya pernah berlaku sombong, semena-mena, berlisan kotor dan perbuatan buruk lainnya. Bahkan dirinya adalah sosok paripurna bagi orang yang ingin merindu surga Allah SWT dari berbagai aspeknya.

Rasulullah pantang menunggu orang yang menemuinya mengucapkan salam terlebih dahulu, bahkan beliaulah yang mendahuluinya.

Saat bersama dengan para sahabat, Nabi akhir zaman ini saking akrab dan sederhana kepribadiannya oleh orang yang pertama kali bertemu akan sukar melihat perbedaan mana Rasul aman sahabat.

Keluh kesah hamba Allah senantiasa ia dengarkan sampai tuntas tak pernah menyela atau memotong untuk segera dijawab. Tak pernah beralasan sibuk urusan berkelit saat urusan ukhrawi pengikutnya belum ditunaikan.

Demikianlah sedikit  dari berbagai kepribadian Rasulullah. Tulisan ini tak akan cukup untuk menggambarkan sosok luar biasa nomer satu kelas dunia ini dalam segala aspek terutama soal kepemimpinan.

Tak ayal, Imam Al Ghazali mengumpulkan berbagai kepribadian Rasulullah dalam kitabnya “ihyaa’ ‘Uluumuddin” di antaranya, menahan amarah, pemberani, adil, paling suci (tidak pernah menyentuh tangan perempuabn yang bukan istrinya atau mahromnya), pemurah, bersyukur (rezeki yang didapat hanya dinikmati seperlunya, selebihnya diserahkan pada pihak yang membutuhkan), dermawan (selalu memberi orang yang meminta), mandiri (menjahit sendiri pakaiannya yang sobek, menambal terompahnya yang sobek), romantis (membantu istri memotong daging), selalu mendatangi undangan tanpa membedakan pangkat dan jabatan, selalu menampakkan wajah berseri pada orang lain, menerima dan berterima kasih atas pemberian orang sekecil apapun itu, marah saat Allah didiskreditkan tapi tak marah saat dirinya dikucilkan, selalu menahan lapar dengan menindih perut dengan batu, memakan yang tersedia meski hanya tiga biji kurma, berjalan seorang diri tanpa pengawal di tengah arena musuh, fasih berbicara, singkat, padat nan jelas, tidak dengki pada kemewahan orang lain, tak malu membersamai atau membonceng pembantunya, berbaur dengan orang miskin dan makan bersama mereka, suka aroma harum dan benci bau busuk, bersilaturrahim (bertamu, menyambung tali persaudaraan) tanpa memandang pangkat dan jabatannya, kera[ kali bersenda gurau tidak mengeluarkan kata dusta atau senonoh dan jika tertawa tidak sampai terbahak-bahak, memuliakan dan mendahulukan keluarganya, memberikan solusi bagi orang yang bertikai, tidak mebedakan pakaian dan makanan pembantu, tidak membuang-buang waktu, sering menziarahi kuburan sahabat-sahabatnya dan tidak pernah merendahkan orang miskin atau menyanjung raja, semuanya diperlakukan sama. [kanzen]

Sumber inspirasi part 1 dan 2: “Pegangan Hidup 1” // karya M. Yunan Nasution // Penerbit: Publicita // Cetakan Kedua // 1978.