angrycellphoneuserAllah SWT telah mengajarkan umatNya untuk bersikap hati-hati dalam sebuah permasalahan atau kabar yang datang, utamanya jika hal tersebut datang dari orang yang tak dikenal atau bahkan sudah dikenal namun akhlaqnya kurang kuran psntas jika disebut Muslim (Fasiq).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِين

“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.” [al-Hujurât/49:6]

Tabayyun atau verifikasi sebuah kabar/permasalahan kerap dianggap sepele oleh sebagian orang terutama dalam dunia media social, khususnya aplikasi android seperti LINE, Whatsapp, BBM, Telegram, Facebook dan lain semacamnya.

Ketika berita menjadi heboh langsung disebar secara cepat di berbagai grup yang diikutinya yang hal tersebut jika dibiarkan kaan menyebabkan kebiasaan buruk ke depannya, karena sudah tidak ada lagi filter mana berita hasil recheck (konfirmasi ulang) dan yang valid.

Ayat di atas mengaja umat Islam untuk tidak mudah terpancing, atau mudah menerima begitu saja berita yang tidak jelas sumbernya, atau berita yang jelas sumbernya tetapi sumber itu dikenal sebagai media penyebar berita palsu, isu murahan atau berita yang menebar fitnah.

Jika ditelusuri awal mula diturunkannya ayat ini adalah seorang Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith tatkala ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musththaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar seperti dalam riwayat Imam Ahmad. Al-Walid malah menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musththaliq. Kontan Rasulullah murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah ayat ini.

Ayat yang mulia itu juga secara tidak langsung bagi mengingatkan orang-orang yang menyebar berita tanpa tabayyun telah meniru kebiasaan orang fasiq, karena jika ada berita fitnah kemudian kita sebar di berbagai grup yang kita ikuti maka apa bedanya kita dengan orang fasiq?

Setiap kabar atau berita yang kita terima maka sikap yang utama dan pertama adalah waspada dan tidak mudah percaya (skeptis), karena dengan begitu kita mandiri dalam mencari kebenaran suatu berita.

Sumber tambahan: Dakwatuna.com, Islampos.com

Sumber gambar: liputan6.com