Direktur Eksekutif LAZIS Dewan Da’wah, H Ade Salamun, menjelaskan, sumbangan tersebut berupa 50 paket Limar yang masing-masing terdiri atas aki 12Volt, swich box, 5 lampu LED 1,5 Watt (setara 15 Watt), 25 m kabel, dan perlengkapan pemasangannya. Untuk men-charge aki, disediakan satu unit genset yang dapat mengisi ulang 10 aki secara bersamaan.

 

 

 

‘’Bantuan ini dimaksudkan terutama untuk menerangi kegiatan belajar dan mengaji anak-anak Mekar Asri,’’ ujar Ade.

 

 

 

Paket bantuan diserahkan langsung kepada 50 kepala keluarga dhuafa oleh Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Ustadz H Syuhada Bahri, di Mushola Mekar Asri, Ahad (4/2).

 

 

 

Saat itu Ustadz Syuhada didampingi Ade Salamun, Ketua Dewan Da’wah Lampung HM Nazir dan sekretarisnya Ansori SP serta da’i Dewan Da’wah yang bertugas di sana, Ahmad Nuruddin. Turut hadir segenap aparat pemeritahan desa setempat, mulai para ketua RT sampai Lurah Ujang Sutarman.

 

 

 

Ustadz Nuruddin menuturkan, sebenarnya Mekar Asri merupakan bagian dari wilayah kerajaan besar pada jaman dulu yaitu Tulang Bawang. Sejarah mencatat, Tulang Bawang merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia, disamping Kerajaan Melayu, Sriwijaya, Kutai, dan Tarumanegara. Pada medio abad IV, seorang bhiksu Budha yang bernama Fa-Hien pernah singgah di Kerajaan To-Lang P’o-Hwang (Tulang Bawang) di pedalaman Chrqse (pulau emas Sumatera). To-Lang P’o-Hwang disebutkan sebagai sebuah kerajaan yang makmur dan berjaya.

 

 

 

Tulang Bawang diresmikan sebagai sebuah kabupaten oleh Menteri Dalam Negeri pada 20 Maret 1997dengan bupati pertama H Santori Hasan, SH.

 

 

 

Sedang Mekar Asri merupakan salah satu dari 10 Desa atau Kampung di Kecamatan Gedung Aji Baru.Sebelumnya, Mekar Asri termasuk bagian dari Kampung Mesir Dwijaya di SP (Satuan Penempatan) 4, Kecamatan Penawartama. Kecamatan Gedung Aji Baru merupakan pemekaran dari wilayah Kecamatan Penawartama melalui Perda No. 01/2007.

 

 

 

Sejak dibuka sebagai pemukiman transmigrasi pada 1992, kondisi SP-4 nyaris tak berubah. Air berlimpah dari tanah maupun kanal Sungai Pidada, tapi tak dapat dikonsumsi lantaran keasamannya tinggi. Warga setempat terpaksa membeli air konsumsi, atau meminum air hujan. Buah-buahan dan sayur pun tak dapat hidup di sini.

 

 

 

Sudah begitu, daerah trans yang masih dipenuhi semak belukar ini, tidak dialiri listrik.

 

 

 

Baru sejak 2010, ada listrik bertenaga genset yang menerangi 200-an rumah warga Mekar Asri. Itupun hanya berupa satu titik lampu yang hidup sejak maghrib hingga tengah malam.

 

 

 

‘’Kalau angin kencang atau hujan deras, listrik mati. Pokoknya, byar-pet,’’ kata Wahidun, salah satu warga RT 01/03 Mekar Asri.

 

 

 

Untuk listrik tersebut, warga membayar iuran Rp 30 ribu/bulan. ‘’Kalau pakai tivi, iurannya sampai Rp 65 ribu perbulan,’’ kata Kang Udin, Ketua RT 01/03.

 

 

 

Dengan dipasangi Limar, rumah warga penerima dapat terang semalaman. ‘’Limar aman untuk keluarga, karena tidak nyetrum dan cahayanya ramah bagi mata manusia. Bola lampu LED-nya tahan sampai 10 tahun,’’ terang M Kurdi, teknisi pemasang instalasi Limar. Ia menambahkan, jika cahaya lampu mulai redup, warga tinggal men-charge aki.

 

 

 

Dalam amanahnya Ustadz Syuhada Bahri mengatakan, warga Desa Mekar Asri harus mensyukuri bantuan ini. ‘’Masih ada sekitar 21.000 desa di Indonesia yang belum menikmati listrik sampai hari ini. Karena itu, syukurilah bantuan ini dengan menjadikannya saran untuk meningkatkan prestasi sekolah dan mengaji,’’ tutur Ustadz Syuhada. Ia berharap, kelak dari setiap keluarga penerima Limar, harus ada minimal satu anak yang hafal Al Qur’an. (nurbowo)