Jakarta (8/7/2015). Waktu dhuhur sudah menjelang, namun Ustadz Abdul Latief Yelipele (39) masih terjebak dalam angkutan desa yang ditumpanginya. Padahal, ia musti segera tiba di tujuan untuk memimpin shoalat Jumát. Mobil tua itu termehek-mehek mendaki jalanan terjal menuju Kampung Air Garam, hingga akhirnya kehabisan nafas. Macet di tengah jalan.

Ustadz Latief memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan ojek, melalui jalan pintas menerobos kebun. ”Tiba di Air Garam sudah pukul satu siang lewat. Alhamdulillah, jamaah masih mau menunggu kedatangan saya untuk Jumatan. Semoga Allah memaafkan kondisi kami,” tutur da’i Dewan Da’wah itu saat bersilaturahim ke Kantor LAZIS Dewan Da’wah Rabu (8/7) siang.

Medan da’wah Abdul Latief adalah Desa Walessi yang terhampar di Pegunungan Tengah Papua, di Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Walessi dikenal sebagai “Perkampungan Muslim Tertinggi di Dunia” berada pada ketinggian 3000 di atas permukaan air laut dengan suhu rata-rata 14 – 26 Derajat Celcius. Desa ini menjadi pusat pengembangan dan dakwah Islam. Di sini terdapat  Islamic Center, Madrasah Merasugun Asso, Masjid Al-Aqsa,  dan pondok untuk anak-anak muslim Papua, khususnya yang berasal dari Lembah Baliem. 

”Saat ini ummat Islam di Lembah Baliem Jayawijaya sekitar 8000-an orang dengan jumlah rumah ibadah 13 buah,” papar Abdul Latief yang muslim sejak lahir dari ibu muslimah dan bapak paganis. Kini ayahnya sudah memeluk Islam.

Sejarah Islam di Walessi dimulai ketika pada 1974 Kepala Suku Perang Aipon Asso memeluk Islam. Aipon yang waktu itu sudah berusia 70 tahun menjadi kepala suku yang sangat disegani di seluruh Lembah Baliem. Wilayah kekuasaannya membentang hampir 2/3 cekungan mangkuk Lembah Baliem. Tak heran bila keislaman Aipon Asso diikuti oleh 600 orang warganya di Walesi. 

Saat baru pulang dari menunaikan ibadah haji tahun 1985, dengan mengenakan surban dan baju gamis panjang, secara demonstratif Asso turun ke jalan dan melakukan pawai di pusat Kota Wamena sambil mengerahkan ratusan warganya yang masih mengenakan koteka dan bertelanjang dada.

Dari Walessi,  Islam terus menyebar  ke 12 kampung lain di sekitarnya: Hitigima, Air Garam, Okilik, Apenas, Jagara, Ibele, Araboda,Megapura, Pasema, Mapenduma, Kurulu, dan Pugima.

Ustadz Abdul Latief menjadi daí di Walessi sejak 1996, sesuai belajar di YPI Al Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. ”Saat itu saya hanya bermodal  hadits sampaikan dariku walau satu ayat,” kenangnya sambil tersenyum.

Waktu itu di Walessi sudah ada daí pendatang. Namun, karena sang daí masih belum dapat berbahasa lokal, warga ogah masuk ke masjid. Setelah Abdul Latief tampil, barulah mereka mau memakmurkan masjid.

Abdul Latief yang berputra 4 anak, kini dakwahnya meliputi 6 kampung. Jarak antar-kampung sekitar 9 km. ”Kalau ada angkutan desa atau ojek, ya numpang jalan. Tapi kalau tidak ada, terpaksa jalan kaki selama sekitar 2 jam,” katanya sambil tersenyum.

LAZIS Dewan Da’wah mengundang para dermawan untuk mendukung da’wah Ustadz Abdul Latief. Selain membutuhkan motor trail untuk kendaraan da’wah, beliau juga berharap agar dua musholla di dua kampung yang dibinanya dapat direnovasi menjadi ”gereja Islam” alias masjid.

Infak da’wah silakan melalui rekening Bank Mandiri Syariah 7001327733 atau BCA Syariah 0011003004 atas nama LAZIIS Dewan Da’wah. (nurbowo)