Rusia dan Rezim Assad bertanggung jawab atas penggunaan senjata terlarang yang menyasar warga sipil khususnya daerah Aleppo. Serangan-serangan dari senjata yang amat mematikan dan canggih menyebabkan banyak jiwa melayang dan beberapa lainnya terluka parah. Sebelumnya, kedua pihak tersebut sudah ditegur oleh PBB untuk tidak melakukan serangan serupa, karena hal tersebut adalah kejahatan perang. Berikut hasil telusuran middleeasteye mengungkap senjata-senjata ilegal canggih nan mematikan yang digunakan rezim suriah dan Rusia dalam perang melawan rakyat.

Prakira Senjata yang digunakan

Bunker Busters, dari namanya dapat diprediksi bahwa senjata ini digunakan untuk menghancurkan bangunan keras. Tepatnya yang disasar oleh rezim dan sekutunya adalah markas militer bawah tanah.

Incendiary Weapons, senjata mematian yang memicu rasa panas atau terbakar, terbuat dari napalm dan fosfor putih yang jika terjadi kontak dengan tubuh akan menyebabkan kulit terbakar dan dapat merusak hati, jantung dan ginjal.

Thermobaric Bombs, sebutan lainnya adalah bom udara yang percikannya dapat mencemarkan udara dan membakar setiap benda yang disentuhnya.

Cluster Munitions, salah satu senjata yang dilarang oleh dunia internasional ini juga digunakan oleh rezim dan sekutunya untuk menyasar tempat yang luas. Senjata ini berupa bom-bom kecil yang dapat meledak kapan saja ketika ada getaran atau sentuhan.

Barrel Bombs, adalah bom yang dijatuhkan dari udara berbentuk drum minyak berisikan pecahan-pecahan logam tajam.

Mengapa Beberapa Senjata Tersebut dilarang?

“Penggunaan setiap senjata dalam wilayah konflik berada di bawah undang-undang kemanusiaan internasional, salah satnuya pasal larangan penargetan secara langsung kepada warga sipil dan larangan serangan membai-buta serta tidak imbang,” kata Asisten Kepala Keamanan Internasional Hannah Bryce, di markas Chatham House.

Sebuah 'kawah' ledakan bom di jalanan Qadi Askar, Aleppo, 26 September 2016

Sebuah ‘kawah’ ledakan bom di jalanan Qadi Askar, Aleppo, 26 September 2016

Tak hanya itu, permasalahan lainnya kata Bryce, adalah target yang sengaja disasar merupakan wilayah dengan populasi masyarakat tinggi.

“Permasalahannya adalah banyaknya senjata peledak yang digunakan pihak militer di Suriah dan Aleppo adalah daerah perumahan dengan warga sipil yang tinggi, sungguh membingungkan,” lanjutnya.

Bryce menambahkan, berdasarkan data yang dikumpulkan dari Action on Armed Violence, bahwa senjata peledak yang digunakan di daerah berpenduduk, sekitar 92 persen warga pasti tewas dan lainnya luka-luka parah. Selain itu ledakan tersebut juga akan merusak infrastruktur penting, seperti fasilitas kesehatan, sanitasi, perairan dan pusat tenaga listrik.

Soal penggunaan senjata, salah satunya jenis pemicu kebakaran yang katanya canggih, Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Kejahatan Perang, Stephen Rapp mengatakan, “Perangkat senjata pembakar tidak dapat membedakan target militer dan warga sipil, senjata itu menyebabkan banyaknya korban tewas, jelasnya.

Ed: Tamam | Middleeasteye (MEE)