Dalam Pembukaan Daurah Du’aat Se-Jawa Barat tersebut juga diadakan  Pelantikan Pengurus Dewan Da’wah Kabupaten Bandung. Hadir juga dalam acara itu  perwakilan dari Pemprov Jawa Barat, Bupati Kabupaten Bandung Barat dan para Pimpinan Dewan Da’wah Jawa Barat.

 

 

 

Gubernur Provinsi Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan dalam sambutan tertulisnya  menyatakan bahwa kegiatan Daurah Du’aat yang dilaksanakan oleh Dewan Da’wah Jawa Barat adalah bukti nyata dari kesungguhan kita dalam mempertahankan da’wah Islamiyah tetap hadir tegak di Nusantara ini, khususnya di tanah sunda, Jawa Barat tercinta.

 

 

 

Gubernur Jawa Barat juga berpesan, agar semua juru da’wah bersungguh-sungguh meneladani Rasulullah SAW dalam melaksanakan tugasnya demi membangun Jawa Barat dengan nafas dan spirit Islam.

 

 

 

Kegiatan Daurah Du’aat Dewan Da’wah Jawa Barat dilaksanakan pada tanggal 2 sampai 4 Maret 2012 diikuti oleh Pengurus dan Da’i Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Kabupaten / Kota se-Jawa Barat.Materi-materi yang dibahas dan dikaji dalam kegiatan antara lain Akhlak Da’i, Manajemen Da’wah, Harakah Haddamah, Kristologi, Kristenisasi. Narasumber/pemateri antara lain KH. Syuhada Bahri, Drs. KH. E. Bahrul Hayat, MA., HM. Daud Gunawan, Prof. Dr. H. Muhammad Baharun, SH, Ust. L.S. Mokoginta, H. Hadiyanto Abdurrahim, Drs. KH. Agus Halimi, M.Ag.

 

 

 

Sesi pertama diawali dengan Kristologi yang disampaikan selama empat jam oleh Ust. H. Insan L.S. Mokoginta. Para peserta yang berjumlah sekitar seratus orang dengan antusias mengikuti sesi ini hingga larut malam.

 

 

 

Terkait dengan perkembangan dan keberadaan gerakan Syiah di Indonesia, panitia sengaja mengundang  Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat Prof. Dr. H. Muhammad Baharun untuk menyampaikan tentang hakekat kesesatan Syiah.

 

 

 

Menurut Prof. Baharun, sita-cita  untuk menciptakan toleransi yang harmonis antara Syi’ah dan Sunnah hanya akan menjadi semacam ilusi belaka, sebab masalah kesesatan Syiah yang bukan hanya karena perbedaan yang perinsipil dan menyangkut fondasi aqidah, namun  juga lantaran ketika keyakinan Syiah harus diekspresikan dalam bentuk-bentuk ritual melalui buku dan ceramah yang bermuatan pelaknatan  terhadap  para sahabat dan Istri Nabi Muhammad Saw. Demikian  paparan  Prof. DR. Muhammad Baharun dihadapan peserta Daurah Du’aat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Jawa Barat, Sabtu, 3 Maret 2012 di Pusdiklat Dewan Da’wah Jabar, Ngamprah Kabupaten Bandung Barat.

 

 

 

Karena itu, kata Prof. Baharun, bagaimana mungkin Syiah dengan Sunnah bisa bersatu, sementara Syiah melaknat isteri-isteri Nabi dan Sahabat, sedangkan Sunnah menghormatinya bahkan mendoakannya dengan ungkapan “radhiallhu anhum” sesuai dengan petunjuk al-Qur’an, sedangkan mereka mengatakannya kutukan “laknatullah alayhim”.

 

 

 

“Bagaimana mungkin kedua aliran yang bertolak belakang dan diametral ini bisa berkompromi dalam ukhuwah” tegas Muhammad Baharun.

 

 

 

Muhammad Baharun juga mengingatkan bahwa persoalan Syiah di Indonesia tidak bisa disederhanakan, misalnya ini urusan pribadi ataupun sekedar mazhab seperti mazhab lain. Justru lebih dari itu, karena konsep “imamah” (kekuasaan mutlak harus dibawah para imam), sangat rentan terjadinya benturan dengan Pancasila, UUD 45 dan NKRI.

 

 

 

Kegiatan Daurah Du’aat ditutup dengan penyampaian materi Akhlak Da’i oleh Ketua Dewan Da’wah Jawa Barat KH. E. Bahrul Hayat, MA pada Ahad, 4 Maret 2012. *** (Amri Sobri)