Demikian disampaikan ustadz Syuhada Bahri, ketua umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di sela-sela sambutan pembukaan acara Daurah Du’at Dewan Da’wah untuk Peningkatan Silaturahim dan Kinerja Da’wah dengan lima puluh utusan dari Dewan Da’wah wilayah Se-Jabodetabek, Jawa Barat dan Lampung di kampus B STID Mohammad Natsir Tambun Bekasi, Sabtu (21/1).

 

Dalam acara yang terselenggara berkat kerjasama Dewan Da’wah dengan Baitul Maal Umat Islam Indonesia (BAMUIS) BNI 46 Jakarta ini, Syuhada juga menyatakan keprihatinannya akan fenomena da’wah saat ini yang tak mampu membendung arus globalisasi dan budaya-budaya asing yang merusak generasi muda Indonesia.

 

“Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan bahwa sejak tahun 2003 hingga 2010 transaksi narkoba di Indonesia naik 300%. Begitu juga data BKKBN hasil penelitian mereka tentang perilaku seksual remaja di kota-kota besar angkanya menunjukkan 51 % remaja Jabodetabek sudah biasa melakukan hubungan seks di luar nikah. Di Medan 52 %, sementara paling tinggi di Surabaya 54%. Lebih hebat lagi data yang dimiliki oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak, hasil penelitian mereka terhadap anak SMP menunjukkan 62, 7 % pernah melakukan hubungan seks di luar nikah. Bahkan, hasil penelitian yayasan Buah Hati terhadap siswa SD kelas empat hingga kelas enam menunjukkan 67% sudah terbiasa mengakses porno dan 22 % lewat internet.  Kalau anak SD kelas  empat sudah terbiasa mengakses film porno padahal masih berumur 10 tahun. Kemudian jika kita lihat hadits Rasulullah saw, “Umur umatku nanti di antara 60 hingga 70” (H.R. Ahmad). Jika kita ambil yang paling pendek saja 60 tahun, maka 50 tahun generasi kita adalah generasi yang rusak”, ujar ustadz yang sering terjun berda’wah di pedalaman ini.

 

Syuhada juga menambahkan bahwa da’wah tidak akan dapat mengatasi kemungkaran dan kemaksiatan karena tiga sebab: Pertama, Da’wah Lighairilillah (Da’wah dengan niat untuk selain Allah). Allah yarham Pak Natsir menyatakan, “Da’wah itu dorongan dari dalam, bukan karena ada  tarikan dari luar”. Jika itu yang terjadi sudah pasti da’wah tidak akan berhasil. Karena orientasi da’wah bukan lagi lillah tetapi lighairilillah.  Kedua, Da’I menyampaikan materi bukan yang  haq, tetapi yang dianggap haq. Padahal Al Haq min rabbi, Kebenaran itu dari Allah tetapi yang dianggapnya haq boleh jadi hanyalah pengalaman spiritualnya saja. Materi da’wah yang seharusnya disampaikan adalah Al Qur’an dan Sunnah disertai pemahaman Rasulullah dan para sahabat memahami keduanya. Kenapa perlu ada pemahaman itu? Karena saat ini banyak yang memahami Al Qur’an dan sunnah tidak sebagaimana Rasulullah dan para sahabat memahaminya. Ketiga, Da’wah belum serius. Lalu, bagaimana da’wah yang serius? Setidaknya ada tiga pilar agar da’wah ini menjadi serius, yaitu da’wah itu harus kerja keras, cerdas dan ikhlas. Inilah beberapa hal yang perlu kita benahi bersama.

 

Di kesempatan yang sama, hal senada juga disampaikan oleh Abdul Wahid Alwi, Wakil Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dalam materi Urgensi Ikhlas dalam Da’wah. Saat ini menurut Wahid, Ikhlas harus menjadi bekal utama bagi seorang da’i. Tanpa keikhlasan semuanya akan sia-sia belaka.

 

Dalam acara yang berlangsung dari tanggal 21 hingga 23 Januari 2012 ini, para peserta juga diberikan kesempatan untuk melaporkan kegiatan da’wahnya di wilayah masing-masing. Ahmad Santoso, utusan dari Dewan Da’wah Lampung tepatnya di kabupaten Pesawaran menyatakan bahwa di daerahnya saat ini akan dibangun semacam ‘pesantren’ Kristen yang dimaksudkan untuk mencetak kader-kader missionaris. Selain itu, ada pula gerakan Ahmadiyah dan kelompok-kelompok Islam sempalan yang menyebar luas di daerahnya. Hal yang serupa juga disampaikan Ahmad Hidayat, utusan dari Dewan Da’wah kabupaten Bandung. Di Bandung ungkapnya pernah terjadi ketika ada perayaan Islam ada pihak asing (yang ternyata Kristen) turut membiayai acara tersebut sambil mengumpulkan tanda tangan dari para undangan yang hadir saat itu. Belakangan diketahui, ternyata tanda tangan tersebut digunakan sebagai pengesahan surat izin pembangunan sekolah Kristen yang diberi nama Talenta. “Ada upaya membangun jaringan Kristenisasi lewat pendidikan sekolah”, tegas Ahmad Hidayat.

 

Untuk menjawab hal tersebut, di daurah singkat ini disosialisasikan juga visi misi dan program-program strategis Dewan Da’wah untuk tahun 2012, Sehingga program Dewan Da’wah itu nantinya akan berjalan sukses dan optimal di masing-masing perwakilan daerah. Selain itu, agar bersinergi perkembangan berkala di masing-masing perwakilan daerah juga perlu dilaporkan rutin setiap bulannya.

 

Selain itu, para peserta juga dibekali dengan materi-materi kekinian seputar zakat seperti Sosialisasi Zakat,  Infaq dan Sadaqah yang disampaikan oleh Ade Salamun, direktur LAZIS Dewan Da’wah. Aplikasi Zakat, Infaq dan Sadaqah dalam Masyarakat oleh perwakilan BAMUIS BNI. Pengembangan Baitul Maal wat Tamwil (BMT) oleh  Sa’ad Suharto, dan Fiqh Zakat oleh Mas’adi Sulthani, MA selaku salah seorang Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Ada pula materi Adabul Ikhtilaf yang disampaikan oleh ustadz Teten Romli Komaruddin, pengasuh sekaligus ketua DKM Al Bahr Pusdiklat Dewan Da’wah Bekasi. Lalu di penghujung acara, ustadz Amin Djamaluddin pakar aliran sesat menyampaikan materi Gerakan LDII di Indonesia. (Muttaqien)