Mesjid Alfurqan (16/12/2014) Ba’da Tahmid dan Syahadatain Dwi Budiman Assiroji, MA. selaku pembawa acara menyampaikan susunan acara dan kegiatan Daurah Ghazwul Fikri Harakatul Haddamah Wal Irtidad Tingkat Nasioanal yang diadakan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di gedung aula Masjid Al Furqan (16/12/2014). Daurah ini akan diselenggarakan selama tiga hari di Ciawi, Bogor (16-19/12/2014) yang dihadiri oleh seluruh da’i undangan Dewan Dakwah di berbagai daerah Indonesia. Acara ini bertujuan untuk membekali para da’i dari ‘Gerakan Penghancuran dan Pemurtadan’ (Harakatul Haddamah Wal Irtidad) yang semakin masif dan terstruktur dilakukan oleh musuh-musuh baik internal atau eksternal Islam.

Para hadirin sangat antusias mendengarkan tausiyah Prof. Dr. AM Saefudin yang ditemani Suwito Suprayogi, Lc. sebagai moderator. “Tantangan saudara dalam menghadapi pertikaian dan pertentangan di tengah masyarakat adalah dengan menjadi Muwahid (pemersatu), Muaddib (pendidik), Mustabbit (pelurus), Mujatahid (pemberi solusi), Mujaddid (pembaharu) dan Mujahid (pejuang)” pesan Prof. Dr. AM Saefudin kepada para hadirin.

Para peserta undangan sangat antusias mendengarkan pemaparan pembicara yang dimulai dari jam 13.30-15.00 WIB. Di sesi pertama pada acara pembukaan ini Prof. Dr. AM. Saefudin berpesan pada para hadirin untuk berhati-hati terhadap Sepilis (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme) yang sudah mengakar di berbagai lapisan pemerintah. “DR. Mohammad Natsir berpesan bahwa pilar-pilar Islam itu ada tiga, kampus, masjid dan pesantren. Dan pesantren inilah benteng terakhir kita dari serangan Sepilis.” Di akhir tausiyahnya, Prof. Dr. AM Saefudin kembali bernostalgia bahwa Pak Natsir (sapaan akrab beliau kepada DR. Mohammad Natsir) adalah seorang mujaddid Indonesia yang dalam bidang politik ia berhasil mempersatukan kembali keutuhan negara Indonesia dengan Mose Integralnya dan di bidang pendidikan beliau memiliki pandangan integrasi pendidikan umum dan agama.

Usai shalat Ashar acara pembukaan sesi kedua dilanjutkan dengan penyampaian tausiyah oleh penyair dan sastrawan tersohor Indonesia Taufik Ismail dan Suidat, Mpd. I sebagai moderator.

Pada sesi kedua acara ini lebih semarak lagi karena Taufik Ismail me-refresh sejarah kelam lahir dan berkembangnya Komunisme di Indonesia. “Komunisme adalah musuh semua agama” sambil menyebut daftar agama di dunia Taufik Ismail menjelaskan paham Komunisme. Berdasarkan sejarah atas nama rakyat kecil dan tertindas Komunisme menyebarkan pahamnya ke berbagai negara di dunia, dari 75 negara yang dipengaruhi 28 negara jatuh ke tangan komunis dengan dijalankannya Komunisme sebagai sistem pemerintahan resmi negara. “ini semua palsu, nyatanya rakyat tetap miskin dan politisi-politisi saja yang tetap kaya” lanjut Taufik Ismail.

Taufik Ismail terheran-heran dengan sikap rakyat dan pemerintah Indonesia yang seakan-akan lupa dengan sejarah kegansasan pihak-pihak PKI yang mencoba merebut kekuasaan, pembantaian rakyat dan elit pemerintah Indonesia.

Di awal dan akhir tausiyah sang penyair mengingatkan bahwa “Sejak zaman nabi Adam AS hingga kini pembunuhan terbesar terhadap manusia dilakukan oleh Komunisme yang menelan korban jiwa 120.000.000 (1917-1991) di seluruh belahan dunia.” Acara pembukaan ditutup menjelang waktu Maghrib.

Para peserta melanjutkan perjalanan seusai shalat maghrib ke Ciawi, Bogor  hingga akhir acara Daurah tepatnya Jum’at 19 Desember 2014.