Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia menyambut gembira pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTT LB) ke V Negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang akan berlangsung di Jakarta 6-7 Maret 2016.

Sebagai negeri Islam terbesar di Dunia, Indonesia juga harus terdepan dalam mencari peyelesaian perdamaian Dunia yang selama ini terkendala antara lain oleh masalah Palestina dan Al Quds yang masih diduduki oleh Zionis Israel.

Sejak perang Arab-Israel untuk pembebasan Palestina Juni 1967 sampai sekarang Israel terus secara membandel menolak puluhan resolusi Dewan Keamanan PBB mulai dari Resolusi 242 tahun 1967 yang memerintahkan Israel untuk mundur ke perbatasan sebelum Juni 1967 dan menghentikan pembangunan pemukiman baru di Tepi Barat Sungai Yordan.

Kesombongan Zionis Israel terus membangkang keputusan PBB terjadi karena veto Amerika Serikat dan beberapa Negara Eropah Barat pada persidangan DK PBB. Karena keganasan dan pelanggaran hak-hak azasi manusia yang sangat sadis seperti penutupan jalan masuk dan keluar dari Gazza yang menjadikan wilayah Palestina ini sebagai penjara terbuka terbesar di Dunia dan penghancuran terus menerus pemukiman penduduk Arab di wilayah pendudukan Israel  untuk membangun rumah-rumah bagi pendatang Yahudi dari luar negeri dalam rangka meluaskan wilayah pendudukan mereka, sebagian Negara-negara pendukung Israel telah berubah sikap bersimpati kepada perjuangan Kemerdekaan Palestina di PBB seperti Perancis yang mendukung resolusi Genereal Assembly dua tahun yang lalu. Karena itu banyak negeri-negeri termasuk di Eropa telah merubah sikap menjadi pendukung  Negara Palestina merdeka.

Namun Resousi Sidang Umum PBB ini tidak dapat dilaksanakan karena tidak ada enforcement atau pemaksaan seperti halnya yang dilakukan oleh DK PBB untuk semua masalah keamanan, perdamaian dan pelanggaran HAM berat lain di Dunia dengan menggunakan Pasukan Perdamaian Antar Bangsa dimana Pasukan Indonesia selalu menjadi unsur utama.

Oleh karena itu Dewan Da’wah mendesak agar KTT ke V ini yang juga akan dihadiri oleh Sek Jen PBB Ban Ki-moon, Utusan Uni Eropah dan Utusan Khusus Amerika Serikat sebagai permanen Observer mengambil keputusan yang mengikat (binding resolution) mendesak Dewan Keamanan PBB melaksankan resolusinya sendiri jika perlu dengan paksa menggunakan pasukan keamanan PBB,   kalau tidak mau dikatakan PBB sebagai macan ompong (paper tiger). Keganasan dan kekejaman kemanusiaan oleh Israel sudah cukup lama dan sudah waktunya PBB terutama Dewan Keamanan menunjukkan jati diri dan kehormatannya nya sebagai pengawal perdamaian dan keamanan Dunia . Ketidak stabilan  Timur Tengah juga telah menghambat  pembangunan dan perkembangan dan peradaban kawasan ini. 

Masalah Pembantaian dan Pengungsi Muslim

Meskipun KTT LB ke V ini direncanakan khusus untuk masalah Palestina, OKI tidak boleh menutup mata terhadap masalah-masalah kemanusiaan besar yang mendesak terutama dengan adanya  jutaan pengungsi dari negeri-negeri Islam di Timur Tengah dan akibat kekejaman Pemerintah dan Tentara Myanmar dan Central African Republik yang terang-terangan melakukan state terrorism dan genosida terhadap rakyat Muslim mereka.

Khusus mengenai penduduk Muslim Rohingya yang telah menetap sejak ribuan tahun di negeri ASEAN ini, pernah jaya dengan kesultanan Arakan hidup damai dengan kerajaan Budhist di Mandalai, ikut memperjuangkan kemerdekaan Myanmar dan diakui sebagai salah satu dari 40an ethnic warga negara yang disebutkan dalam Konstitusi Union of Burma (nama asal Myanmar pada kemerdekaan thn 1948). Namun atas desakan dari ekstrimis Budhist, Pendeta  Ashin Viratu dan pengikutnya, pemerintahan militer Jenderal Ne Win yang mengadakan coup d’etat pada tahun 1982 merobah Konstitusi antara lain nama menjadi Myanmar membatalkan pasal mengenai kewarganegaraan suku Muslim yang mayoritas di Rohingya sehingga sejak itu mereka menjadi stateless (tidak berwarga Negara) dinegerinya sendiri.

Keadaan ini menyebabkan orang Rohinggya diberhentikan dari semua jabatan dan kepegawaian termasuk polisi dan tentara,  menjadi mangsa penculikan dan pengambilan aset,  pengusiran dan pembakaran kampung-kampung   hingga mereka terpaksa mengungsi melalui jalan laut lepas, satu-satunya jalan yang terbuka hingga puluhan ribu dari mereka mati tenggelam disapu ombak Teluk Benggal yang ganas dengan Typhoon. Sebagian mereka terdampar diberbagai negeri ASEAN terutama Thailand, Malaysia dan Indonesia.  

Khusus mengenai Rohingya  yang oleh PBB secara resmi dikategorikan sebagai  minoritas yang paling tertindas dengan kondisi terburuk di Dunia, sudah waktunya negeri-negeri ASEAN anggota OKI yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei menegur dengan keras negeri Myanmar agar melindungi warga Negara dan penduduknya  dari pelanggaran HAM berat yang menimbulkan masalah pengungsi dan kegawatan kemanusiaan yang dahsyat di Asia Tenggara.