Usai sholat Maghrib menjadi momen penting bagi muslim untuk berdoa dan membaca Al Quran, namun tidak bagi Siyono warga asal Klaten yang ditangkap oleh Densus 88 di Masjid dekat kediamannya ba’da sholat Maghrib, Selasa (8/3).

Pada hari Kamis (10/3) jam 10.00 Densus 88 menggrebek rumah Siyono yang pada saat bersamaan membuat para peserta didik TK Roudatul Athfal Terpadu (RAT) Amanah Ummah menangis karena ketakutan. Dilaporkan bahwa rumah Siyono menjadi tempat belajar bagi anak-anak.

Hari Jumat merupakan hari yang spesial bagi umat Islam, karena di hari itu seluruh Muslim berkumpul memenuhi Masjid-Masjid untuk mendengarkan ceramah dan sholat Jumat. Tapi tidak bagi Siyono karena masih ditahan oleh pihak Densus 88. Hingga beredarlah kabar bahwa pada hari Jumat, (11/3) Siyono meninggal dengan sebab kelelahan karena melakukan perlawanan pada Densus 88 saat berada di dalam mobil sebagaimana penjelasan Polri baru-baru ini.

Berkaitan penyebab tewasnya Siyono yang disebabkan kelelahan memang sulit diterima akal, karena berdasarkan track record Densus 88 terkenal akan profesionalisme penangkapan tersangka.

“Selama ini, semua orang juga tahu akan keganasan Densus 88 saat bekerja. Tentu saya tidak mudah percaya dengan perubahan karakter Densus 88 yang tiba-tiba menjadi tidak ganas. Setelah ditangkap dengan cara kasar, biasanya terduga langsung diborgol, dilakban mukanya. Bahkan, kaki dan tangan terduga, 100% tidak mungkin dapat bergerak bebas, karena memborgol kaki dan tangan adalah standard baku mereka” ujar Mustofa B Nahrawardaya, Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Ahad (13/3).

Dengan demikian kita bisa melihat ada fakta yang seolah ditutupi dan terkait kasus tewasnya Siyono ini Komisioner Komnas HAM, Manager Nasution meminta Polri untuk jujur kepada publik.

“Berikan penjelasan yang jujur yang bisa diterima logika waras publik,” katanya, (14/3).

Manager sendiri sudah menerima 118 laporan kasus tembak mati tanpa proses pemeriksaan yang sudah dilaksanakan oleh badan penaggulangan terorisme nasional ini, baik BNPT atau Densus 88, Sabtu (12/3).

Mungkin umat Islam Indonesia dapat menerima atas kepergian Siyono asal ada bukti kredibel atas kasus ini, misal hasil autopsi yang bisa dipertanggungjawabkan. Namun, menurut Komisioner Komnas HAM, Siane Indriyani pihak Polri dianggap takut untuk membuktikannya.

“Jika tidak, Densus berarti harus bertanggung jawab atas kematian Siyono. Kenapa takut lakukan autopsi, jika kematian Siyono wajar,” katanya, Ahad (13 /3).

Sedangkan Wasekum Dewan Dakwah, Taufik Hidayat, MA terkait transparansi kasus ini meminta kepada Polri sebagai pihak yang dapat memberikan keamanan secara profesional untuk melakukan autopsi.

“Polri sebagai pihak keamanan, harusnya profesional dalam kasus Siyono ini dan harusnya Polri melakukan autopsi dengan melibatkan pihak rumah sakit yang independen dan melaporkan hasilnya kepada publik bersama pihak independen yang ditunjuk tersebut, dengan demikian umat Islam paham duduk permasalahannya. Sehinga tidak terjadi fitnah baik kepada pihak kepolisian atau kepada Almarhum Siyono.” Pungkasnya di Gedung Menara Dakwah, Senin (14/3).

Sumber utama: kiblat.net, islampos.com, arrahmah.com, republika.co.id, news.detik.com