Dari kalangan majlis syura Dewan Da’wah Aceh hadir Prof. Dr. Iskandar Usman, MA, selaku ketua, Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA, dan beberapa founding father/pendiri Dewan Da’wah Aceh, di antaranya Tgk. Muhammad Yus, Miswar Sulaiman, Zulkifli Amin. Sementara pengurus hadir dari jajaran pengurus harian dan masing-masing bidang.

 

Dalam temu ramah tersebut, Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, sebagai Ketua Dewan Da’wah Aceh periode 2011-2015, menyampaikan beberapa hal hasil Rakernas Dewan Da’wah tahun 2014, yang menjadi fokus Dewan Da’wah saat ini baik di pusat maupun provinsi.

 

Adapun program kerja saat ini adalah; Pertama, Konsolidasi Organisasi Da’wah, dengan target pengurus Dewan Da’wah harus terbentuk dan aktif di semua provinsi di Indonesia, dan ini menjadi tugas pengurus pusat. Sementara tugas Pengurus Wilayah, memastikan terbentuk dan aktifnya Pengurus Daerah di Kabupaten/Kota, dan seterusnya sampai kecamatan. Kedua, Kemandirian Organisasi/Da’wah, langkah ini dilaksanakan dengan membentuk unit usaha, pengumpulan dana melalui ZIS, wakaf tunai/produktif dll dengan sasaran dapat membiayai program-program da’wah di wilayah yang bersangkutan. Ketiga, Pengkaderan, baik informal maupun melalui jalur formal. Di Pusat saat ini sudah ada program pendidikan dari TK sampai dengan program sarjana (milik sendiri) sementara untuk program pascasarjana dan doctoral, dalam rangka kaderisasi ulama, masih bekerjasama dengan beberapa universitas seperti Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor, UMJ Surakarta dengan sponsor Baznas.

 

Ketiga program di atas secara perlahan-lahan sudah dilaksanakan oleh Pengurus Wilayah Aceh. Khusus untuk pengkaderan, Dewan Da’wah Aceh, mulai tahun 2014 sudah membuka Akademi Da’wah Indonesia (ADI), yang dipusatkan di Markaz Dewan Da’wah Gampong Rumpet. Mahasiswa ADI akan dididik selama 2 tahun di Aceh, kemudian akan menyelesaikan program sarjana di STID Mohammad Natsir di Jakarta, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

 

Karena program ini gratis, maka Dewan Da’wah Aceh mengharapkan kepada Majlis Syura dan para aghniya serta dermawan lainnya untuk dapat membantu biaya pendidikan anak-anak di ADI. Karena yang direkrut sebagai mahasiswa adalah fakir miskin yang ada di kabupaten/kota perbatasan, di mana mereka sangat berminat belajar tetapi tidak memiliki kemampuan dan akses terhadap dunia pendidikan, demikian  Tgk. Hasanuddin mengakhiri paparannya.

 

Menanggapi apa yang disampaikan oleh pimpinan Dewan Da’wah Aceh, ketua majlis syura menyarankan agar mencari orang tua asuh untuk masing-masing mahasiswa sehingga dapat dibantu secara berkelanjutan. Sementara yang lain menyarankan agar mengajukan anggaran kepada pihak Pemerintah Aceh agar dapat dibantu melalui APBA.

 

Di akhir pertemuan, Dr. Muhammad AR, M.Ed, sebagai direktur ADI didampingi Dr. Abizal M. Yathi, Lc, MA, selaku sekretaris, merinci kebutuhan yang mendesak untuk operasional, yakni biaya makan sebesar 7 juta/bulan, sarana kamar tidur dan dapur sekitar 12 juta, dan meminta kepada siapa yang mempunyai kelebihan harta agar dapat menginfak atau wakaf dalam program ini. (Said)