Trio-Dol terkenal di Banten. Ini bukan nama grup band melainkan budaya buang air besar (BAB) yang disebut doli, dolbon, dan dolwah. Doli akronim dari modol di kali yang artinya BAB di sungai. Sedang dolbon dan dolwah masing-masing adalah BAB di kebon dan di sawah.

Kepala Seksi Penyehatan Limgkungan dan Pengawasan Makanan Dinas Kesehatan Banten Rostina mengungkapkan, kesadaran masyarakat untuk melakukan buang hajat di jamban dengan septic tank di Banten masih rendah.

“Total di Banten baru 46 persen warganya yang memiliki sanitasi yang baik. Artinya masih banyak warga banten yang buang air besar sembarangan (BABS),” Kata Rostina seperti dikutip Republika (19/06/2015).

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang menyatakan hingga tahun 2013 jumlah KK yang memiliki jamban sehat baru 30.76 %.

Nah, saat musim kering seperti sekarang ini, budaya BABS menguarkan aroma tak sedap di seputar Desa Cigeulis, Kec Cigeulis, Kab Pandeglang. Bau itu tak lain berasal dari tinja warga di kali, kebon, dan sawah.

Menghadapi fenomena itu, Ustadz Bey Hanafi tak tinggal diam. Da’i Dewan  Da’wah yang bertugas di Cigeulis ini mendatangkan bantuan dari LAZIS Dewan Da’wah untuk memberi penyuluhan dan bantuan fasilitas MCK (mandi-cuci-kakus) umum.

Pada 7-9 Agustus lalu, LAZIS Dewan Da’wah mengajak Tim Penyuluhan Pola Hidup Sehat dan Bersih (PHBS) dari Environmental Health Student Association Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, turun ke Cigeulis untuk memenuhi kebutuhan warga Cigeulis.

Hari kedua di kampung itu diisi dengan penyuluhan PHBS. ‘’Ibu-ibu, diare atau mencret bukanlah karena kita makan sambel, tetapi karena makanan kita tercemar kuman penyakit. Kuman penyakit itu berasal dari  tinja kita yang dibawa lalat yang kemudian hinggap di makanan kita. Atau dari tangan kita sendiri yang kotor,’’ tutur Ratna, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, dalam penyuluhan yang diikuti puluhan warga RW I di Kampung Sebrang Barat Desa Cigeulis, Sabtu (8/8).

Oleh karena itu, imbuh Ratna yang didampingi rekan dan kader lokal, kita jangan BAB sembarangan. ‘’Harus cuci tangan sebelum dan sesudah makan,’’ katanya.

Penyuluh lalu mengajak warga untuk membiasakan buang hajat besar di jamban yang sehat. Budaya ini untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih, sehat, dan tidak berbau. Juga supaya tidak mencemari sumber air, tidak mengundang lalat atau serangga lain yang dapat menjadi penular berbagai penyakit seperti diare, kolera, disentri, typus, kecacingan, penyakit kulit, dan keracunan.

Jamban sehat, lanjut Ratna, adalah yang tidak mencemari sumber air minum, tidak berbau, mudah dibersihkan, tertutup dengan penerangan dan ventilasi memadai, dan lantai cukup luas serta kedap air. ‘’Jangan lupa disediakan air, sabun, dan alat pembersih.’’

Bersamaan dengan penyuluhan, LAZIS Dewan Da’wah mengajak kaum bapak untuk membangun MCK umum. Lokasinya di atas tanah seluas 4 x 10 meter yang diwakafkan Arsal, warga setempat. Selama ini, sumur air di dapur rumah Arsal memang sudah seperti milik umum.

Budaya Trio-Dol, tak hanya di Banten. Hasil studi lintas-kementrian bertajuk Environment Health Risk Assessment pada 2013, menyatakan, 49,5 persen masyarakat Indonesia masih terbiasa BABS. Studi tersebut dilakukan di 55 kabupaten dan kota peserta Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman. (agung/nurbowo)