Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia KH Syuhada Bahri menyatakan rendahnya kesadaran tentang makanan halal di kalangan umat Islam disebabkan oleh ilmu mereka yang kurang. Karena ilmu yang kurang, akhirnya masyarakat bersikap asal. Tidak mengandung babi dan alkohol, otomatis halal. “Padahal konsep halal tidak sesederhana itu,” ujarnya, seperti dikutip Republika.co.id.

Dia memberi contoh, andai pemotongan ayam dan sapi tak sesuai tuntutan Islam, maka jatuhnya tetap haram. “Kalau sekarang kita makan misalnya di kaki lima, asal tak mengandung babi dan alkohol dianggap halal,” ujar dia

Selain itu, saat ini banyak variasi makanan modern yang beredar di masyarakat. “Makanan modern sudah banyak seperti pizza, pasta dan ayam goreng siap saji,” ujarnya. Hal ini, yang membuat masyarakat semakin rumit dalam memilah makanan halal.

Meski seperti itu, dia berharap MUI bisa berperan aktif dengan mengadakan pendekatan edukasi ke masyarakat. “Bisa dengan buletin rutin atau bisa juga dengan sosialisasi ke masjid,” usulnya

Syuhada menyadari bahwa sebelum ke arah sana memang LPPOM MUI harus dibantu terkait masalah anggaran. “Saya pikir pemerintah pusat harus memiliki keinginan untuk membantu LPPOM MUI melalui APBN,” ujar dia. Atau, lanjutnya, penggunaan Corporate Sosial Responsibility (CSR) dari BUMN diarahkan untuk membiayai sertifikasi halal. (Red)