“Lembaga Amil Zakat dalam proses distribusi zakatnya, perlu melakukan ikhtiar nyata, guna menjawab kebutuhan masyarakat, antara lain dengan penyediaan sarana air bersih dan sanitasi bagi masyarakat muslim yang membutuhkan.”

Demikian disampaikan DR HM Asrorun Ni’am Sholeh, Sekretaris Komisi C Bidang Fatwa Munas IX MUI, di lokasi munas, Hotel Garden Palace Surabaya, Rabu (26/8/2015).

Salah satu fatwa yang dihasilkan dalam Munas MUI tersebut adalah soal pendayagunaan dana zakat untuk bantuan berupa air dan fasilitas sanitasi.

Asrorun menerangkan, pendayagunaan zakat untuk pembangunan sarana air bersih dan sanitasi diperbolehkan. Syaratnya, dalam keadaan mendesak (hajah maassah) bagi para mustahiq yang bersifat langsung.

“Manfaat dari sarana air bersih dan sanitasi tersebut diperuntukkan untuk kepentingan kemaslahatan umum (maslahah aammah) dan kebajikan (al-birr),” terangnya.

Hal itu dituangkan sebagai Fatwa MUI Nomor 01/MUNAS-IX/MUI/2015.

Menanggapi fatwa MUI tersebut, Dewan Da’wah menyatakan dukungannya. ‘’Fatwa pendayagunaan zakat untuk sarana air bersih dan sanitasi itu tepat, karena banyak saudara-saudara kita saat ini yang sedang terkena musibah kekeringan,’’ kata Ketua Umum Dewan Da’wah KH Syuhada Bahri di Jakarta, Kamis (27/8).

Terdampak El Nino, saat ini sebanyak 9 provinsi yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, NTB, NTT, Sulawesi Tenggara, dan Gorontalo, mengalami musim kemarau lebih panjang. Akibatnya, musibah kekeringan melanda.

Sebanyak  41 kecamatan  yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Banten mengalami kekeringan atau krisis air.  Misalnya di Pandeglang, Lebak, Serang, Tangerang, dan lain-lain.

Kekeringan dialami kawasan Pantai Utara (Pantura) seperti Kabupaten Indramayu, Cirebon, Majalengka, terus ke Kabupaten Subang dan Karawang.

Wilayah Selatan Jabar semisal Kabupaten Pangandaran, Ciamis dan Tasikmalaya juga kering. Demikian halnya Kabupaten Bekasi dan Bogor.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kabupaten Bantul dan Kulon Progo sudah dinyatakan darurat bencana kekeringan terhitung Agustus sampai Oktober 2015.

Gunungkidul dan Kulon Progo juga langganan kekeringan. Dari data dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi setempat, sebanyak 449 dusun yang tersebar di 70 desa, wilayah Gunungkidul, rawan kekeringan dalam musim kemarau 2015 ini. Terutama Kecamatan Panggang, Girisubo, Rongkop, dan Purwosari.

Untuk Jawa Tengah, sejak awal Juli 2015, krisis air melanda 487 desa yang tersebar di Kabupaten Rembang, Blora, Grobogan, Pati, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Tegal, Pemalang, Purworejo, Jepara, Demak, dan Kebumen.

Sedang di Jawa Timur, hingga akhir Juli 2015, sebanyak 24 kabupaten telah menyatakan status darurat bencana kekeringan. Kekeringan melanda lebih dari 200 desa.

Amukan El Nino dan dampaknya diprediksi sampai November 2015. Karena itu, Dewan Da’wah melalui LAZIS Dewan Da’wah, mengajak masyarakat untuk membantu korban kekeringan dengan berzakat dan infak.

Direktur Eksekutif LAZIS Dewan Da’wah Ade Salamun mengatakan, penanggulangan kiris air selama ini memang menjadi salah satu program pendayagunaan lembaga yang dipimpinnya.

‘’Melalui Program Sumur buat Sedulur, kami warga yang mengalami krisis air dalam bentuk dropping air, pipanisasi air, pembangunan sumur dan bak penampungan, serta pembangunan fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus),’’ tutur Ade. Ia menambahkan, LAZIS Dewan Da’wah juga mengemas Program Da’i Datang Desaku Rindang, yakni reboisasi di lahan kritis agar menjadi lahan penahan air.

Sumur yang dibangun LAZIS Dewan Da’wah antara lain di Dusun Ngrancah, Desa Bumiharjo, Kec Kemalang, Klaten, Jawa Tengah. Sumur dalam yang terletak di zona 10 km dari puncak Gunung Merapi ini berkedalaman 210 meter dengan debit air 5,5, liter/detik.

Diresmikan bertepatan dengan Peringatan Hari Air Sedunia, 22 Maret 2011, sumur tersebut menyuplai air bagi warga dan masjid puluhan desa di Kemalang.

Pada 10 Maret 2013, Dewan Da’wah Jawa Tengah meresmikan penggunaan sumur Goa Suruh di Desa Pucung, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Air sumur dari Goa Suruh itu dialirkan melalui pipa besi menuju bak-bak penampungan di tujuh dusun, yang berjarak 200 sampai 900 meter dari sumber air. Alhamdulillah, sekitar 440 keluarga (2.354 jiwa) telah menikmatinya.

Saat ini, ungkap Ade, pihaknya tengah menyelesaikan pipanisasi air di Sembalun dan Segenter, Lombok Utara, NTB. Sedang dropping air dengan mobil tanki terus dilakukan di daerah kekeringan di Sleman, Gunung Kidul, Wonogiri, Boyolali, dan Klaten.

Sedang di Lebak dan Pandeglang, masyarakat sedang bergotong royong merampungkan pembangunan MCK bantuan dari donatur LAZIS Dewan Da’wah.