Bogor, (17/12/2014) Fenomena karyawan muslim yang diharuskan mengenakan atribut Natal pada Bulan Desember, sudah dipersoalkan sejak lama. Pada Desember 2010, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam siaran pers yang diteken Ketua MUI KH Muhyiddin Junaidi, menyatakan, para pengelola mal, hotel, tempat rekreasi, dan tempat-tempat bisnis lainnya diharapkan menjaga perasaan umat Islam dan umat lainnya serta kerukunan antarumat beragama. Mereka diminta tidak berlebihan dalam euforia Natal dan tidak memaksa karyawannya yang beragama Islam untuk memakai simbol-simbol dan ritual Natal.

Namun, seruan MUI itu mendapat perlawanan. Rektor Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Jan Aritonang, seperti dikutip Suara Pembaruan (27/12/2010) menyatakan, bisa mengerti kegelisahan MUI atas berlebihannya perayaan Natal di pusat perbelajaan dan hotel. 

Namun, Aritonang juga meminta MUI melihat kenyataan bahwa perayaan Natal sekarang bukan lagi hanya perayaan agama Kristen. Natal, menurutnya, sekarang sudah menjadi moment universal. Negara-negara non-Kristen, seperti Jepang pun merayakan Natal. 

Itulah salah satu ekspresi idiologi pluralisme, yang tetap marak hingga sekarang. 

Menanggapi fenomena tersebut, dengan satiris Profesor AM Saefuddin mengatakan, Kenapa Saudara tidak pindah agama saja sekalian? Hari ini Kristen, besok Buddha, besoknya lagi Hindu.

Hal ini dikatakan Pak AM saat membuka Dauroh Ghazwul Fikri Harakatul Hadamah wal Irtidad di Gedung Menara Dakwah, Jakarta Pusat, Selasa (16/12). 

Daurah diikuti 61 utusan dari Dewan Dakwah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Acara berlangsung di Bogor pada 17-19 Desember 2014, dengan materi antara lain tentang komunisme, syiah, ahmadiyah, dan sipilis (sekulerisme-pluralisme-liberalisme). 

Materi kajian yang meliputi strategi penyebaran dan penanggulangannya, disampaikan antara lain oleh  Taufik Ismail, DR Adian Husaini, dan KH Amin Jamaluddin.

Cendekiawan Muslim AM Saefuddin mengaku prihatin dengan masifnya gerakan pluralisme seperti tampak dalam Natal bersama.

Islam Liberal sangat cepat disebarkan melalui dolar dan internet. Sudah 40% mahasiswa Indonesia di Mesir mengidap paham ini. Misalnya jika Dewan Dawah mengartikan jilbab sebagai busana yang menutupi aurat, sedangkan kaum hermeneutik mengartikan jilbab sebagai pakaian yang pantas dilihat, tutur Ketua Dewan Pembina Dewan Dakwah tersebut. 

Para peserta dauroh diharapkan menjadi mujahid ghazwul fikri untuk memberi pencerahan ummat sekaligus menanggulangi fitnah dan adu domba yang semakin marak.

Bapak-bapak menjadi mujahid ghazwul fikri harakatul haddamah wal irtidad. Target dari acara ini, Saudara harus menanggulangi fitnah. Mendekati pemuda muslim agar tidak tergiur pada ajaran menyimpang semisal Syiah. Perbedaan-perbedaan ini di lapisan bawah menimbulkan fitnah, dan menghadirkan pihak ketiga yang berperan mengadu domba, tutur AM Saefuddin.

Sayangnya, lanjut Pak AM, perpecahan dan adu domba pun melanda partai-partai Islam. Sehingga, asset umat itu tidak bisa diharapkan untuk menanggulangi persoalan fitnah dan adu domba di kalangan kaum muslimin.

Partai-partai Islam seperti rumah kosong tidak ada isinya, tidak memiliki ideologis. Isinya cuma kursiyyun wal harta qarun, dan itulah yang menjadi alat pertengkaran atau perebutan kekuasaan, kata mantan politisi PPP dengan nada prihatin.

Melalui dauroh ini, para peserta diharapkan menjadi kader dengan kualitas 6-M. Saudara harus menjadi Muwahhid, Muaddib (pendidik), Musaddid (yang meluruskan) Mujtahid di arena politik keummatan, Mujaddid (pembaru), dan harus menjadi Mujahid (pejuang), papar AM Saefuddin.

Ia melanjutkan,  bila setiap alumni dauroh ini mampu mengkader 100 orang/tahun, maka kita akan memiliki 6100 orang kader mujahid dakwah. (zuhdi/nurbowo)