Jakarta, (20/12) Berawal dari 15 anak asuh, kini Yayasan As Salam Komplek DKI Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, mendidik hampir 600 murid. Mereka terdiri murid madrasah diniyah (31 orang), TK dan KB (173), TPA (114), dan Sekolah Dasar Islam (257). Jumlah anak asuh pun bertambah menjadi 63 orang. Mereka semua dibina oleh guru dan karyawan yang berjumlah sekitar 70 orang.

Untuk meningkatkan kemampuan guru dan karyawan dalam mengajar Al Quran kepada anak-anak,  Yayasan As Salam menggelar Training Pengajar Al Quran pada Sabtu (20/12). 

Training yang berlangsung di Gedung Yayasan As Salam itu diikuti sekitar 100 peserta. Mereka adalah guru, karyawan, pengurus yayasan, orangtua murid, anggota majelis taklim, dan imam serta pengurus Masjid As Salam.

Training yang disponsori LAZIS Dewan Dakwah itu mendatangkan fasilitator DR Ahmad Annuri, pakar pengajaran Al Quran dari Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan As Salam Burhan Said antara lain mengatakan, membaca Al Quran tidak boleh asal-asalan. Apalagi dalam mengajarkannya. Ada sepuluh adab membaca Al Quran, di antaranya harus tartil, kata Said. Untuk itulah, semua elemen yang terlibat dalam pendidikan di As Salam, ditingkatkan kemampuannya dalam membaca dan mengajarkan Quran. 

Ustadz Ramlan Mardjoned, Pembina Yayasan As Salam, dalam taushiyahnya mengemukakan keutamaan membaca dan menghafal Al Quran. Mengutip sebuah hadits, seorang penghafal Quran kelak diberi keistimewaan (syafaat) untuk menyelamatkan 10 orang yang seharusnya masuk neraka.

Trainer pendidikan dari LAZIS Dewan Dakwah Deddy Djuandi, menyajikan ice-breaker saat mengantarkan peserta ke acara inti. Dengan gayanya yang menarik dan dinamis, Deddy memotovasi para peserta untuk menjadi pengajar dan guru yang unggul. Tidak biasa-biasa saja.

Dalam paparannya kemudian, Ustadz Ahmad Annuri mengungkapkan sejumlah kekeliruan umum dalam membaca Al Quran. Misalnya lantaran pengaruh dialek kesukuan. Sehingga misalnya, bacaan Quran lidah Jawa Tengah terdengar medok seperti senandung dandangulo.

Menghafal Al Quran tidak bisa meninggalkan tahsin. Karena hafalan tetap harus memenuhi syarat tartil, tandas Annuri yang disertasinya membedah 186 metode baca Quran di Indonesia.

Para peserta mengaku sangat tercerahkan oleh materi training ini. Bagus sekali materinya. Ini penting untuk meningkatkan kemampuan kita dan anak-anak didik kita, kata Fetty Fetriany, Kepala Sekolah SDI As Salam.

Gatot Wu, pengurus yayasan, meminta Direktur Eksekutif LAZIS Dewan Dakwah Ustadz Ade Salamun untuk melanjutkan kerjasama penyelenggaraan training ini. Penulis produktif dan kreatif itu juga berkomitmen untuk mendukung program dakwah pedalaman dengan keahliannya.