Ny. Novi, pimpinan Rumah Produksi Korekapi yang mengerjakan produksi MRA menjelaskan, MRAmerupakan program semidokumenter yang bercerita tentang profil dan aktivitas para Da’i Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di berbagai pelosok Indonesia. Antara lain da’i di Kepulauan Mentawai(Sumbar), Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan, Pulau Kera di Nusa Tenggara Timur,  daerah transmigrasi di Tulang Bawang, Mesuji (Lampung), Gunung Kidul DIY, dan lain-lain.

 

‘’Sebagian besar adegan dalam MRA adalah adegan alami (nature), sebagaimana biasa dilakukan masing-masing para Da’i dalam kesehariannya,’’ ungkap Ny Novi kepada wartawan saat premiere MRA di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (4/7).

 

Ketua Umum Dewan Dawah Islamiyah Indonesia, Ustadz Syuhada Bahri, menjelaskan, Dewan Dawah yang didirikan founding fathers Republik Indonesia pada tahun 1967, hingga saat ini telah mengirimkan dan menempatkan sekitar 1000 Da’i di berbagai pelosok negeri.

 

‘’Para da’i tersebut sebelumnya dididik melalui Program Mulazamah (kader ulama-intelektual), Program S-1 di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) M Natsir, dan Diploma-2 (Program Da’i Trampil non-gelar),’’ terang Ustadz Syuhada.

 

Ia melanjutkan, tugas utama para da’i tersebut adalah membina (binaan) dan mempertahankan (difa’an) aqidah ummat setempat.

 

Direktur Eksekutif LAZIS Dewan Dawah, H Ade Salamun, menambahkan, untuk menunjang tugas para da’i, LAZIS Dewan Dakwah mendukung dengan Program Qurba, Wakaf Qur’an, Ifthor Ramadhan, Kado untuk Yatim dan Dhuafa, dan Bekal Da’i serta Program Ekonomi Produktif.

 

Selain itu, imbuh Ade, juga Program Da’i Datang Desa Terang, Da’i Datang Perbatasan Tenang, dan Da’iDatang Desa Rindang.

 

Para da’i yang akan memberi inspirasi lewat tayangan ‘’Menggapai Ridho Allah – Kisah Para Da’iPedalaman” antara lain:

 

Ustadz Heri Syahmuda SitorusDa’i asal Sumatera Utara ini bertugas di Dusun Tubeket, Desa Makalau, Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Bersam asang istri yang melahirkan di tempat tugas, ia membuat anak-anak semakin pandai mengaji dan  juara MTQ tingkat Kabupaten. Ustadz Heri juga mengenalkan sistem WC rumahtangga sebagai pengganti budaya buang air besar di sungai. Prestasi lainnya adalah mengenalkan kembali tanaman padi setelah selama 15 tahun terakhir warga hanya kenal sagu, ketela, dan pisang. Panen raya padi Tubeket seluas 20 ha berlangsung pada April 2013.

 

Ustadz Robithoh Alam IslamyBertugas di Pulau Takera, Kupang, NTT. Ia tetap bertahan walau minus air bersih dan sayur sehingga sempat kena wasir (ambeien). Forum non-formal kegiatan belajar dan mengaji anak pulau yang ia selenggarakan di gubuk beratap seng akhirnya diakui dan diresmikan sebagai Madrasah Diniyah Swasta ‘’Rijalul Ghad’’ (Pemimpin Masa Depan) oleh Kanwil Depag NTT pada 2013.

 

Ustadz Hasan Abwam. Bertugas di  Girikoerto, Kec Panggang, Gunungkidul, DIY. Ia mewadahi kegiatan spiritual dan ekonomi masyarakat dalam Jamaah Al Maududi. Dengan dukungan LAZIS Dewan Dakwah, Ustadz Hasan juga menggulirkan program pembesaran ternak hewan kurban dan pinjaman dana bergulir untuk usaha gurem warga setempat.

 

Ustadz Syuhada Bahri berharap, dengan menyimak tayangan Ramadhan ini para pemirsa tergugah hatinya sehingga semakin saleh secara spiritual dan sosial.

 

‘’Mudah-mudahan setelah menyaksikan kiprah para da’i pedalaman yang luar biasa namun tidak pernah terekspos ke publik ini, masyarakat tergerak untuk menjadi pendukung dakwah dengan kekuatan tenaga, pikiran, dan hartanya, minimal dengan dukungan do’a,’’ tutur Ustadz Syuhada Bahri. (bowo)