JAKARTA (voa-islam.com)—Eksekusi mati terhadap tokoh Syiah Nimr Al-Nimr yang dilakukan Kerajaan Arab Saudi menuai pro kontra. Beberapa pihak di Indonesia mengungkapkan ketidaksetujuan atas eksekusi mati tersebut. Sehingga mereka yang tidak setuju ini menuntut Pemerintah Indonesia untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi.

Menurut Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Mohammad Siddiq, tuntutan pemutusan hubungan diplomatik dengan Saudi adalah tuntutan ngawur.

Siddiq menjelaskan bahwa banyak jasa Arab Saudi yang telah dirasakan oleh Indonesia. “Sangat tidak tepat tuntutan tersebut. Karena begitu besarnya kepentingan RI dengan Saudi Arabia. Antara lain dalam pelaksanaan ibadah haji dan umrah sepanjang tahun maupun hubungan ekonomi dan politik yang terus meningkat,” jelas Siddiq kepada Voa-Islam baru-baru ini.

Selain itu, Saudi juga telah memberikan ribuan beasiswa dan bantuan pengembangan pendidikan lainnya. Lulusan Saudi sekarang ini banyak memainkan peranan penting di negeri Indonesia.

“Begitu pula hubungan kekeluargaan antara warga Saudi Arabia keturunan Indonesia yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun bermukim di Saudi Arabia,” ujar Siddiq.

Siddiq melanjutkan, “Jangan lupa bahwa Kerajaan Arab Saudi banyak membantu perjuangan kemerdekaan RI. Pemerintah Arab Saudi dibawah pimpinan Raja Abdul Azis yang sudah lebih dahulu menjadi anggota PBB sejak berdirinya pada tahun 1945 ikut memperjuangkan kemerdekaan RI di PBB. Menerima delegasi RI yang dipimpin oleh Agus Salim, dan mengakui Kemerdekaan RI ketika kita masih melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, meski kita sudah memproklamirkan kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945.” * [Nizar/Syaf/voa-islam.com]