Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Aceh (Dewan Dakwah Aceh) Senin (31/08) malam menggelar silaturahmi bersama masyarakat gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Kab. Aceh Besar.
 
Kegiatan yang berlangsung ba’da shalat Isya di Markaz Dewan Da’wah Aceh ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan antara Pengurus Dewan Da’wah Aceh dengan masyarakat Rumpet, dikarenakan domisili Markaz Dewan Dakwah Aceh ini berada dalam wilayah administrasi gampong Rumpet. Juga untuk memperkenalkan program-program yang telah, sedang dan akan dilaksanakan oleh Dewan Dakwah Aceh.
 
“Alhamdulillah, tak terasa kami sudah 3 tahun lebih berada di Rumpet ini. Kami merasa sangat aman dan nyaman berada disini. Walaupun demikian tentunya kami juga sangat mengharapkan masukan-masukan dan peutuah-peutuah dari orang tua kami disini,” kata Ketua Dewan Dakwah Aceh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, M.CL MA ketika memberikan sambutan mengawali silaturrahmi tersebut.  
 
Tgk Hasanuddin menjelaskan bahwa Dewan Dakwah ini adalah organisasi berbentuk yayasan yang didirikan oleh salah seorang tokoh nasional yaitu Allahu Yarham Muhammad Natsir yang merupakan Ketua Partai Masyumi pada saat itu. Selain itu Muhammad Natsir juga tercatat sebagai Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia di masa Presiden Soekarno dan salah seorang tokoh di balik lahirnya Badan Konstituante.
 
Sampai sekarang kepengurusan Dewan Dakwah sudah terbentuk di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Untuk Provinsi Aceh sendiri sudah ada sejak tahun 1991 dan telah tersebar di 23 Kab/Kota.
 
Awal mula pembentukan Dewan Dakwah di Aceh adalah untuk membendung masuknya faham-faham yang tidak sesuai dengan Islam dan juga untuk mengawal daerah-daerah di perbatasan Aceh dan daerah-daerah lainnya dari upaya kristenisasi.
 
Oleh karena itu tambah Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Islam UIN Ar-Raniry ini, untuk mencegah upaya tersebut Dewan Dakwah Aceh telah mendirikan Lembaga Pendidikan Akademi Dakwah Indonesia (ADI). Saat ini mahasiswanya berjumlah 28 orang. Mareka semua berasal dari daerah perbatasan Aceh seperti Subulussalam, Singkil, Simeulue, Aceh Tenggara dan Aceh Tamiang.
 
Mareka dibekali Ilmu Dakwah dan hafal al-quran. Selama belajar di ADI, biaya kuliah, biaya asrama dan biaya makan tidak dipungut bayaran alias digratiskan. Disebabkan mareka ini berasal dari keluarga yang kurang mampu, dhuafa, yatim dan anak muallaf. Masa belajar mareka di ADI ini selama 2 tahun kemudian diseleksi kembali untuk kuliah program Strata Satu (S-1) di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohd Natsir di Jakarta, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
 
“Kita berharap mereka akan berdakwah dan membina masyarakat di daerah mereka tinggal setelah selesai kuliah nanti. Dan kami sangat berterima kasih kepada masyarakat Rumpet yang sudah membantu dan bekerjasama dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh Dewan Dakwah Aceh” ungkap Tgk Hasanuddin.
 
Sementara itu Keuchik gampong Rumpet Abdullah A. Samad menyambut baik kehadiran Dewan Dakwah dan ADI tersebut di gampong mareka. Ia berharap ADI akan membawa Aceh untuk lebih baik di masa hadapan. Kepada para mahasiswa ADI yg juga hadir dalam silaturrahmi ia berpesan untuk bersungguh-sungguh dalam belajar dan menjaga norma-norma yang berlaku.
 
“Semoga masyarakat Rumpet dapat mengambil manfaatnya,” harap Abdullah.
 
Dalam silaturrahmi ini turut dihadiri oleh Direktur ADI Dr. Muhammad AR, M.Ed beserta Pengurus Dewan Dakwah Aceh. Dan juga dihadiri oleh Sekretaris Gampong Rumpet Muhammad Salihin, Tuha Peut, Imum Meunasah, Kepala Dusun dan Kaur.[]