“Gerakan LGBT merupakan gerakan yang sistematis, didukung oleh jaringan-jaringan internasional salah satunya  ILGA atau International Lesbian Gay Association, mereka didukung uni eropa, ada 1000 lebih anggota dan dari 113 negara”, terang Rita Soebagio, SPT. M.S.I ketua AILA (Aliansi Cinta Keluarga) Indonesia mengawali pengantarnya saat berkunjung ke Dewan Da’wah.

Tidak seperti kunjungan sebelumnya, kali ini Ust. Hasanuddin bersama rombongan Dewan Da’wah Tangsel mengajak Rita Soebagio, SPT. M.Si Ketua AILA Indonesia, (Rabu, 10/8) ke kantor Dewan Da’wah Pusat. AILA Indonesia adalah aliansi antar lembaga yang peduli pada upaya pengokohan keluarga. AILA memiliki visi untuk menjadi aliansi yang produktif dalam upaya pengokohan keluarga.

Dalam pertemuan tersebut, Rita Soebagio memaparkan secara singkat gerakan LGBT di Indonesia. Agenda LGBT juga masuk dalam agenda kesetaraan gender dan Indonesia sendiri sudah meratifikasi Undang-Undang No. 7 tahun 1984 tentang Ratifikasi Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) atau Konvensi Penghapusan Diksriminasi Terhadap Wanita yang melegalkan kesetaraan gender.

Kesetaraan gender, menurut ibu dua orang anak ini, adalah pintu masuk mereka. Perempuan yang berdaya menurut feminis adalah perempuan yang ditarik ke sektor publik. Perempuan yang berada di domestik adalah perempuan yang tidak berdaya. Setelah melakukan kajian bersama pakar ketahanan keluarga, psikologi, sosiologi dan hukum, AILA Indonesia merasakan perlunya sebuah kepastian hukum terkait dengan fenomena sosial yang saat ini marak terjadi di tengah masyarakat. Fenomena itu adalah perzinaan, perkosaan dan perilaku cabul sesama jenis. Oleh karena itu diperlukan langkah hukum berupa Uji Materiil terhadap beberapa pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”).

“Teman-teman hukum harus sama-sama berjihad dengan judicial review (mengujimaterikan, red) undang-undang no. 7 tahun 1984 tentang ratifikasi CEDAW”, pesannya.

Saat ini AILA Indonesia bersama Para Pemohon yang terdiri dari para akademisi , didampingi Tim Kuasa Hukum Indonesia Beradab, telah mengajukan uji materiil KUHP Pasal 284, 285 dan 292 sejak tanggal 19 Juni 2016 ke hadapan Mahkamah Konstitusi (MK) RI.

Ustadz Hasanuddin juga menjelaskan bahwa Dewan Da’wah Tangsel mendukung langkah AILA dalam judicial review RUU Anti LGBT agar segera disahkan, dan saat ini masih berproses di Mahkamah Konstitusi. Oleh karena itulah, Ustadz Hasanuddin berharap adanya support (dukungan) dari Dewan Da’wah Pusat baik materi maupun non-materi.

Menanggapi hal tersebut, Ust. Amlir Syaifa Yasin, MA, mengatakan “Sebelumnya, perlu dijelaskan dahulu posisi Dewan Da’wah sebagai pelapor ataukah hanya sebagai pihak terkait yang cukup dimintai keterangan saja” ungkapnya. Menjawab hal ini, Rita Soebagio menegaskan “Seperti ormas-ormas yang lain  PERSIS dan Muhammadiyah yang sebelumnya telah memberikan dukungan, Dewan Dakwah bisa menjadi pihak terkait yang dapat dimintai keterangan dan mendukung penuh disahkannya RUU Anti LGBT ini”.

Turut hadir dalam acara ini Avid Solihin, MM selaku Sekretaris Umum Dewan Da’wah, Ketua Bidang Pendidikan DR Imam Zamroji, MA, Ketua Bidang Kerjasama dalam Negeri DR. Darwis Abu Ubaidah, Ketua Bidang Kaderisasi Ihsan Kamil, M.E.I, Ketua Dewan Da’wah Provinsi DKI Jakarta Hayat Setiawan Husen, M.Pd.I, Kepala Sekolah Qur’anic School Arif Fadli, Lc dan Ketua Bidang Pendidikan Masyarakat, Mukmin Sholeh, S.Kom.I.

Semoga Yudisial Review kali ini dapat segera diproses dan disahkan menjadi UU yang insya Allah akan bermanfaat dan mengawal Indonesia dari ancaman-ancaman negatif, salah satunya dari gerakan LGBT dan pendukung-pendukungnya.[muttaqin]