Tanggal 3 April merupakan hari bersejarah dimana seorang negarawan Mohammad Natsir menggagas Mosi Integral sebagai ikhtiar politik untuk menyatukan 17 pulau terpisah dalam Republik Indonesia Serikat menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memperingati hari bersejarah tersebut, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera mengadakan Diskusi Publik; Menolak Lupa, Peringati Mosi Integral Natsir 3 April 1950, Hadirkan NKRI, di Gedung DPR, Senayan pada Senin (3/4).

Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Mohammad Siddik menuturkan, Mohammad Natsir Allahu Yarham sebagai artikulator aspirasi masyarakat Indonesia mampu mengejawantahkan hubungan antara dakwah dengan politik. “Terbukti, Mosi Integral Mohammad Natsir merupakan suatu upaya ikhtiar politik dalam menyelamatkan NKRI dari perpecahan dan konflik yang besar,” ujar Siddik.

Lebih lanjut, Siddik mengatakan, sudah dua kali berbicara dengan Ketua MPR, Zulkifli Hasan mengenai mosi integral dan Pancasila dalam buku sosialisasi 4 pilar.

“Pak Natsir di Pakistan sering berbicara tentang Pancasila. Sejarah tergantung pada siapa yang menafsirkan, bahwa bukan hanya Mosi Integral Natsir yang harus diartikulasi, tetapi seperti Partai Syarekat Islam, KH. Tjokroaminoto, PUSA (Persatuan Ulama se-Aceh) termasuk Gerakan Padri tahun 1821dan 1837,” tandasnya.

Selain itu, Sejarawan Prof. Anhar Gonggong mengungkapkan, tidak semua pemimpin negarawan dan tidak semua negarawan adalah seorang pemimpin.

“Pendiri Republik adalah orang-orang yang mampu mengendalikan diri, itulah yang disebut negarawan. Kharisma yang paling terlihat dari Pak Natsir ialah kesederhanaan, kesederhanaan itu yang membuat di antara mereka saling respect,” kata Anhar.

Ia mencontohkan, hubungan Mohammad Natsir dengan Kasimo dan Tambunan sudah berkawan akrab sejak tahun 1930-an.

“Kemampuan untuk berdialog, melobby sangat penting. Tidak sekadar ngomong, ada faktor personality dan kharismatik, itu yang sangat penting,” tukasnya.

Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini mengingatkan, mata rantai sejarah tidak berdiri sendiri. Perkatan Soekarno tentang Jasmerah tidak bisa dilupakan dan itu yang paling penting.

“Peringatan sejarah satu generasi akan mengantarkan sejarah kepada generasi selanjutnya yang tidak bisa diputus. Salah satu yang ingin saya tangkap dari Mohammad Natsir ialah tidak memisahkan antara agama dengan politik,” kata Jazuli.

Dengan demikian, tegas Jazuli, agama tidak bisa dipisahkan dari semangat patriotisme bangsa dalam seluruh aspeknya termasuk di ranah politik. Jazuli menilai gagasan memisahkan agama dan politik secara ekstrim justru kontraproduktif dan tidak sejalan dengan semangat kebangsaan.

“Orang yang ingin memisahkan antara agama dengan politik ialah orang yang menghianati sejarah dan sila pertama Pancasila,” tutupnya.

Rep: Ahmad Zuhdi | Ed : Muttaqin