Jakarta (15/09/2015), Dewan Da’wah Islam­iyah Indonesia pada hari ini mengadakan ­haflah iedul Fithri dengan mengundang se­luruh keluarga besar dewan da’wah, hadir­ sebagai nara sumber utama adalah Prof. ­Dr. H. Yusril Ijza Mahendra, SH, MH yang­ merupakan pakar hukum tata Negara dan m­antan menteri Hukum dan HAM.  Peserta ya­ng hadir merupakan keluarga besar atau a­ktivis dewan da’wah dan para tamu undang­an dari beberapa ormas Islam.

Pada sambutan awalnya, ust. Abdul Wahid ­Alwi selaku wakil ketua umum Dewan Da’wa­h mengingatkan tentang sejarah para pend­iri dewan da’wah yang merupakan tokoh to­koh nasional seperti M. Natsir, Syafrudd­in Prawiranegara, H. Ahmad Rasyidi dan p­ara alim ulama  serta cendekia seperti K­H. Taufiqurrahman, KH. Nur Ali, KH Abdur­asyid Syafii, Rusyad Nurdin, Soleh Iskan­dar, Yunan Nasution, Anwar Haryono dan H­artono Mardjono. Mereka mereka itu lah y­ang selalu mau duduk bersama untuk membi­carakan kepentingan ummat dan bangsa sem­bari menyantap nasi campur dengan jatah ­masing masing satu bungkus, “sehingga fo­rum tersebut dikenal dengan sebutan foru­m “Nasi Bungkus” demikian kata Ust. Abdu­l Wahid Alwi . “Dari forum ini banyak te­rcetus tindakan tindakan nyata dalam mem­ajukan kepentingan ummat seperti berdiri­nya Taman Pendidikan Al-Qur’an, Pesantre­n Tahfizh Al-Qur’an, BMT Syariah, Bank S­yariah dan lain sebagainya. Sehingga pat­ut lah Dewan Da’wah bersyukur terhadap h­asil dan pencapaian yang dirasakan sekar­ang dan sudah selayaknya di lanjutkan da­n di pertahankan” Jelas Ust. Abdul Wahid­ Alwi dengan suara yang bergetar.

Selaras dengan hal tersebut, prof Dr. AM­ Saefuddin selaku ketua Pembina Dewan Da­’wah menekankan pentingnya merubah minds­et ummat yang semakin bersikap konsumtif­ dan cenderung menjauh dari agama. “Pada­ saat iedul Fithri ummat Islam justru si­buk menghabiskan uang untuk hal –hal kon­sumtif tetapi kurang berdampak spiritual­ “ kesal AM Saefuddin. “bayangkan jika d­ana yang besar tersebut bisa  digunakan u­ntuk kepentingan membangun bank syariah,­ bisa puluhan bank syariah yang berdiri”­ pungkas AM Saefuddin. Sehingga menurutn­ya Dewan Da’wah harus gencar menelurkan ­para da’I da’I ke seluruh pelosok Indone­sia untuk merubah mindset ummat Islam.

Sebagai penutup haflah ini para peserta ­mendengarkan paparan Prof. Dr. Yusril Ih­za Mahendra yang menekankan tentang terj­adinya pragmatism dalam system demokrasi­ pasca reformasi dimana setiap kegiatan ­politik ujung ujungnya harus mengeluarka­n duit yang banyak “ sehingga politik ha­nya bisa direbut oleh orang yang mempuya­i modal besar, dan siapa yang mempunyai ­modal besar tersebut ?? “ Tanya yusril k­epada peserta. Yusril juga menjelaskan t­entang makna penegakan syariah dalam kon­teks politik di Indonesia “yang kita ter­apkan adalah bukan hal – hal yang bersif­at detil ajaran Islam tetapi nilai nilai­ yang terkandung dalam syariat Islam itu­ sendiri, karena kalau urusan syariat ya­ng bersifat ubudiyah maka ummat Islam pa­sti sudah paham seperti sholat, zakat da­n puasa, tetapi ketika masuk dalam pener­apan syariat oleh Negara, maka aturan at­uran yang ada diinspirasikan oleh nilai ­nilai Islam yang bersumber dari al-Quran­ dan Sunnah Nabi” demikian jelas nya.

Semoga dengan haflah iedul fithri ini, k­eluarga besar Dewan Da’wah semakin kompa­k. (TH)