Hari ini Gubernur Sumbar Resmikan Pemakaian Nama RSUD Mohammad Natsir

Solok, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Solok berganti nama menjadi RSUD Mohammad Natsir. Selasa (22/1) ini, Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno meresmikan pergantian nama rumah sakit milik Pemprov Sumbar itu. Hal ini sesuai dengan Pergub Nomor 63/2018 tertanggal 20 Desember 2018 tentang Perubahan Nama RSUD Solok menjadi RSUD Mohammad Natsir.

“Pergantian nama akan diiringi dengan peningkatan mutu layanan,” ujar Direktur RSUD Mohammad Natsir drg. Ernoviana, M.Kes

Proses pemilihan nama RSUD Solok yang diambil dari nama pahlawan Indonesia ini tidak muncul seketika melainkan melewati rentetan waktu dan proses. Usulan pemilihan nama tersebut awalnya langsung diajukan kepada Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno pada 2016 dan perencanaan tersebut juga sudah dibahas oleh DRPD Sumbar.

Belasan nama muncul yang diawali dengan nama-nama tokoh di dunia kesehatan atau dokter yang sudah meninggal dan pada akhirnya semua sepakat Mohammad Natsir-lah yang dijadikan pilihan utama.

“Gubernur setuju untuk diganti nama,” lanjut Ernoviana.

Nama Mohammad Natsir dipilih karena pertimbangan Pahlawan Nasional. Jasa-jasa beliau selain di bidang keagamaan (dakwah), sosial dan politik juga di bidang kesehatan. Beliaulah yang mempelopori pembangunan rumah sakit Islam di Padang, jauh sebelum kesadaran masyarakat di berbagai daerah tumbuh akan pentingya kehadiran rumah sakit Islam.

Sumber: Koran Harian Singgalang

Sebagai tambahan masih di dunia kesehatan, Dewan Da’wah bekerjasama dengan YARSI untuk mendirikan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina di atas tanah kepemilikan YARSI di Solok, Sumbar.

Mulai Selasa (22/1/2019), Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Solok yang telah beroperasi sejak tahun 1984 resmi berganti nama menjadi RSUD Mohammad Natsir.

Peresmian nama baru rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat ini dilakukan oleh Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, sesuai dengan Pergub Nomor 63/2018 tertanggal 20 Desember 2018 tentang Perubahan Nama RSUD Solok menjadi RSUD Mohammad Natsir.

Sejalan dengan penggantian nama,  Direktur RSUD Mohammad Natsir drg. Ernoviana, M.Kes, mengatakan akan meningkatkan mutu layanan rumah sakit meliputi berbagai pembenahan ke arah yang lebih representatif dan islami, terutama mengingat tokoh Muhammad Natsir sendiri merupakan salah seorang tokoh Masyumi.

Proses pemilihan nama RSUD Solok yang diambil dari nama pahlawan Indonesia ini rupanya sudah dibahas sejak tahun 2016, melewati rentetan waktu dan proses. Dan, “Gubernur setuju untuk diganti nama,” lanjut Ernoviana.

Usulan pemilihan nama tersebut awalnya langsung diajukan kepada Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno,  dan perencanaan tersebut juga sudah dibahas oleh DRPD Sumbar.

Awalnya belasan nama dimunculkan, diawali dengan nama-nama tokoh di dunia kesehatan dan nama-nama dokter yang sudah meninggal namun memiliki jasa besar dibidang kesehatan, namun semuanya  sepakat nama Mohammad Natsir-lah yang dijadikan pilihan utama.

Nama Mohammad Natsir dipilih karena pertimbangan memiliki jasa yang banyak terhadap negara Indonesia sehingga memperoleh gelar Pahlawan Nasional.

Jasa-jasa beliau selain di bidang keagamaan (dakwah), sosial dan politik juga di bidang kesehatan. Allahuyarhamh Mohammad Natsir dahulu yang mempelopori pembangunan rumah sakit Islam Ibnu Sina di Padang, jauh sebelum kesadaran masyarakat di berbagai daerah tumbuh atas pentingya kehadiran rumah sakit Islam. Pembangunan rumah sakit Ibnu Sina ketika itu merupakan hasil kerjasama antara Dewan Da’wah – Yayasan Rumah Sakit Islam Indonesia (YARSI)  yang  digagas untuk menggantikan pendirian rumah sakit kristen yang kehadirannya ditolak masyarakat.

“Kita akan terus berbenah, mulai dari nama, meningkatkan pengadaan sarana dan prasarana serta pelayanan. Bahkan, untuk menjaga nama baik Muhammad Natsir, kita akan berusaha RSUD ini menjadi rumah sakit syariah,” kata Direktur RSUD Muahmmad Natsir, Ernoviana dalam sambutannya.

Sejalan dengan penggantian nama, rumah sakit juga melakukan pembenahan dan  inovasi baru untuk pelayanan terhadap masyarakat. Termasuk diantaranya beberapa penambahan gedung yang saat ini dalam tahap pembangunan. Selain itu ada fasilitas pelayanan berupa ruang forensik, patologi anatomi, ruang rawat inap psikiatri, flouroscopy, dan pelayanan geriatri.

Terkait konsep syariah ini, dikatakan Ernoviana bukan hanya manajemen, pelayanan, tetapi suasana dan lingkungannya juga harus lebih islami. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mewujudkan rumah sakit yang religius ini, manajemen rumah sakit pun  kini tengah  membangun Masjid Al Mustasyfa di komplek rumah sakit tersebut demi pelayanan yang lebih komprehensif dan menjadi rumah sakit syariah.

“Selama ini keluarga besar RSUD dan keluarga pasien susah melakukan ibadah salat. Biaya masjid ini sudah terkumpul Rp195 juta. Semoga nanti ada tambahan dari Pemprov Sumbar,” papar Ernoviana.

Impian RSUD Muhammad Natsir ini sangat diapresiasi oleh Walikota Solok, Zul Elfian, bahwa nama pahlawan yang melekat pada rumah sakit ini harus diabadikan dengan kebaikan. Dengan harapan, RSUD Muhammad Natsir ini bisa menjadi rumah sakit rujukan, serta menjadi kebanggaan Solok.

Zul Elfian selanjutnya berharap jalan provinsi di depan rumah sakit ini dapat diperlebar dan diperbaiki Pemerintah Provinsi Sumbar.

Putera keenam Muhammad Natsir, Ahmad Fauzi, yang hadir dalam peresmian, menyampaikan bahwa pihak keluarganya tidak keberatan nama orangtuanya disematkan ke rumah sakit kebanggaan masyarakat Solok ini. Baginya, pelekatan nama tersebut merupakan suatu kehormatan terhadap jasa ayahnya semasa hidup. “Kami justru senang. Semoga generasi muda tetap mengenang Muhammad Natsir sebagai tokoh Islam dari Minang,” ujar Ahmad Fauzi

Tampak Waket DDII Sumbar, H. Anisral (peci hitam) dan Waket YARSI Sumbar Dr. H. Faisal Ilyas (baju hijau) berdiri di atas tanah bakal RSI Ibnu Sina

editor: tmm