Puluhan mahasiswa STID Mohammad Natsir ikuti acara Talkshow ‘Inspirasi Tokoh Indonesia’, Senin (3/10/2016) di Studio 1 Wesal TV Jakarta. Hadir sebagai narasumber Tokoh Zakat Nasional Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin. Acara ini berupaya untuk menggali sisi inspirasi perjalanan dan perjuangan hidup sang tokoh dalam memberdayakan umat.

Kiai Didin, demikian beliau dipanggil, mengatakan bahwa besarnya potensi zakat di Indonesia berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat. Jika semakin banyak rakyat sejahtera maka semakin banyak pula penerimaan zakatnya.

“Namun kita dihadapkan masalah jumlah rakyat miskin yang semakin banyak. Maka jalan yang kita tempuh adalah dengan memberdayakan umat melalui wirausaha, keterampilan, dan pendidikan,” ungkapnya.

Mengenai kesederhanaan hidup, Kiai Didin banyak belajar dari gurunya yakni Dr. Mohammad Natsir. Seperti fasilitas hidup yang sederhana dan gaya hidupnya yang tidak pernah berjarak dengan umat. Beliau juga mengimplementasikan tiga pilar Pak Natsir yaitu masjid, pesantren, dan kampus, dengan menggabungkan ketiganya di Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Dalam Talk show ini juga menghadirkan anak sulung Kiai Didin, yakni Dr. Irfan Syauqi, dalam rangka mengungkap sisi lain beliau dalam mendidik anak-anaknya.

Menurut penuturan Irfan, ayahnya tersebut mendidik tidak hanya dengan kata, namun juga memberi contoh. Tatkala menyuruh anaknya shalat maka beliau pun shalat, tatkala menyuruh anaknya membaca Al-Qur’an beliau pun membaca Al-Qur’an.

“Jika sudah terdengar suara Bapak mengetik, maka itu tandanya sudah pukul 2.30 pagi. Itulah kebiasaan yang beliau lakukan setelah shalat Tahajud,” ungkapnya.

Irfan mengatakan bahwa inspirasi yang bisa dipetik dari ayahnya tersebut adalah ‘dalam kondisi apapun hubungan kita dengan Allah jangan sampai lepas’. Hal tersebut terlihat ketika ayahnya akan melakukan operasi jantung, shalat tahajud tidak ditinggalkan.

“Dalam kondisi tersebut, ayahlah yang membangunkan kita semua untuk shalat tahajud,” ucapnya.

Beliau juga, lanjut Irfan, selalu melibatkan anak-anaknya dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan umat. Sehingga tidak heran jika anak-anaknya paham tentang perekonomian umat.

“Hasilnya, kini kelima anaknya menjadi para ekonom Muslim atas kesadaran mereka sendiri,” tukasnya.[SR]

Ed: Tamam