Pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Sulawesi Selatan Muhammad Nusran menegaskan isu terorisme jangan mengeneralisasi Islam secara universal.

“Teroris itu merupakan bahasa barat yang kemudian dipopulerkan orang. Kenapa ketika ada isu terorisme, Islam selalu dibawa-bawa padahal tidak semua, tapi hanya oknum laknat yang melakukan itu,” katanya di Makassar, Minggu.

Menurut dia Islam adalah pembawa kedamaian serta pencerahan menjadi rahmat bagi umat manusia. Namun kemudian dikaitkan dengan isu teroris membunuh banyak orang hingga menebar teror tentu adalah jalan sesat.

“Banyak aliran sesaat sehingga mereka mau menjalankan aksi-aksi brutal berdalih mengatasnamakan jihad, padahal jelas itu tidak sesuai ajaran dan syariat islam yang sebenarnya,” tegas Ketua Halal Center UMI Makassar ini.

Kendati demikian orang-orang atau oknum mengatasnamakan Islam dalam menjalankan teror hanya mempunyai akal, fikiran dan pengetahuan tetapi tidak mempunyai ilmu hakiki bagaimana Islam sebenarnya.

“Tidak semua orang yang dianugerahi ilmu mampu menangkap inti ilmu itu sendiri. Bahkan orang saleh pun belum mampu mengungkap inti agamanya. Seorang ilmuwan bisa saja menangkap hakekat ilmu melalui proses penalarannya,” katanya.

Berdasarkan karakteristik ulul al baab terdapat dalam surat Al Imran (190-191) dijelaskan mereka yang memadukan antara fikir dan zikir tentu mampu memisahkan mana yang jelek dan mana baik, dari baik dan terbaik, walaupun mempertahankan kebaikan, tetapi kejelekan masih saja dipertahankan sebagian orang.

“Tentu orang-orang ini menyebar teror dimana-mana hanya mampu menjalankan fikirannya. Kendati mereka berzikir belum tentu mereka memaknai inti dari zikir tersebut,” sebut Lektor Kepala FTI UMI tersebut.

Sedangkan Wakil Rektor I Universitas Darussalam (UNIDA) Hamid Fahmy Zarkasyi menambahkan konsep yang masuk dalam fikiran seseorang itu dilacak secara akami maka akan disadari pertama kali masuk adalah tentang kehidupan dikaji dalam Islam epstemologi.

Pikiran kehidupan, lanjut dia, termasuk didalamnya konsep hubungan dunia dan akherat, bagimana cara manusia menjalini rutinitasnya, sikap individual dan sosial serta lainnya.

“Konsep hidup berkembang dalam pikiran seseorang, maka secara alami pula konsep mengenai dunia dimana manusia hidup berbentuk inilah melahirkan konsep ilmu pengetahuan yang melahitlam nilai dan moralitas,” tambah putra KH Imam Zarkasyi pendiri Pesantren Moderen Gontor itu.

Editor: Agus Setiawan