Jasa Negarawan Muslim Dalam Mendirikan Bangsa

Dewan Da’wah News, Jakarta – Islamic Book Fair (IBF) yang menurut pihak panitia penyelenggara merupakan pameran buku Islam terbesar se-Asia Tenggara kembali diadakan pada tahun ini di Jakarta Convention Center (JCC) selama lima hari (27/2-3/3). Dalam pameran tersebut disuguhkan pula acara-acara yang berhubungan dengan literasi di antaranya membedah buku karangan anak bangsa. Pada Sabtu (2/3/2019) ada acara bedah buku “Jejak Para Tokoh Muslim Mengawal NKRI” menghadirkan Drs. H. Lukman Hakiem (penulis buku, Mantan Anggota DPR) dan H. Muhammad Fuad Nasar, S.Sos, M.Sc. (Pemerhati Sejarah dan Pergerakan Islam, Kemenag RI) sebagai pembicara.

Lukman menjelaskan buku “Jejak Para Tokoh Muslim Mengawal NKRI” merupakan tulisan berserak yang dikumpulkan menjadi sebuah buku.

“Sebenarnya (buku) ini tidak sengaja ditulis untuk jadi buku karena ini kumpulan tulisan,” katanya mengawali pembicaraan.

Tulisan-tulisannya, Lukman melanjutkan, ditulis berdasarkan bergulirnya tanggal harian. Seperti pada tanggal 3 April 1950 ada pidato salah satu anggota parlemen bernama M. Natsir mengajukan Mosi Integral. Mosi Integral merupakan usul dari M. Natsir untuk pemerintah supaya lebih aktif mengajak negara-negara serikat untuk bersama-sama membentuk negara kesatuan Republik Indonesia. Sayangnya, orang-orang yang mengatakan dirinya paling ‘NKRI’ belum tentu tahu sejarah lahirnya kata tersebut.

Nah, sekarang tuh kan banyak orang teriak ‘saya NKRI’ atau ‘NKRI harga mati,’ tapi kalau ditanya bagaimana proses terjadinya NKRI belum tentu dia tau,” lanjut Lukman.

Kemudian pada 19 desember 1948 terjadi Agresi Militer Belanda II. Presiden dan wakilnya beserta para menteri ditangkap oleh Belanda. Kalau presiden beserta para petinggi negara ditangkap dan ibu kota sudah diduduki Belanda artinya negara sedang dikuasai asing sepenuhnya. Tapi tiba-tiba di Sumatera Barat muncul Mr. Sjafroedin Prawiranegara yang mengumumkan dirinya sebagai Presiden dan meresmikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan mengumumkannya dengan cara gerilya.

“Lalu (rakyat) bergerilya, gerilyanya sambil bawa radio dulu belum ada twitter dan sms,” canda Lukman.

Buku ini disusun, lanjut Lukman untuk menyadarkan umat Islam bahwa negara ini didirikan oleh tokoh-tokoh muslim.

“Bahwa republik ini didirikan oleh kita, umat Islam, jadi kita (umat Islam) ini pemilik saham terbesar dari republik Indonesia,” tegas Lukman.

Lalu Lukman mengisahkan sejarah para pemimpin negara dulu itu tidak hanya ikut merumuskan konstitusi. Bukan hanya ikut merumuskan undang-undang dasar yang di dalamnya ada dasar negara pancasila sampai ikut merumuskan bentuk lambang negara, artinya hingga persoalan teknis pun ikut dibuat.

Lambang negara Burung Garuda tidak muncul tiba-tiba, melainkan ada proses yang melatarbelakangi yaitu berdasarkan kesepakatan antar Panitia Lencana Negara. Yang menjadi Koordinator Panitia Sultan Hamid II (Sultan Pontianak), Ketua Panitia Mr. Mohamad Yamin, jajaran anggota terdiri dari Ki Hajar Dewantara, Mr. Pellaupessy, M. Natsir dan RM Ng Poerbatjaraka.

Lalu dimulailah rapat dengan diawali masing-masing anggota panitia mengemukakan gambar lambang negara.

Awalnya Sultan Hamid II mengusulkan lambang yang berbentuk seperti burung bersayap dan berkepala manusia dan tangannya memegang sesuatu.

Berbeda dengan Sultan Hamid II, Mohammad Yamin mengusulkan sebuah lambang tertentu namun terlalu ‘berbau’ Jepang yang tentu saja ditolak oleh mayoritas panitia.

Adapun M. Natsir menolak lambang burung bersayap berkepala manusia sebab terlalu mitologis dan khayali. Singkat cerita lambang negara disetujui dengan Lambang Garuda.

Setelah itu masing-masing panitia menyumbang gagasan-gagasannya yang hari ini dapat kita lihat semua gagasan tersebut terlukis dalam bentuk perisai di dada burung garuda

“Bintang Lima yang melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan usul dari M. Natsir,” ujar Lukman.

Patut diketahui, M. Natsir adalah tokoh pahlawan Indonesia yang telah banyak berjasa untuk bangsa Indonesia. Dia juga memiliki keilmuan Islam yang tinggi dan kepedulian terhadap sesama muslim. Sosok Natsir adalah negarawan religius di masa lalu.

Di akhir penyampainnya Lukman mengkritisi pihak yang mencurigai umat Islam tidak nasionalis merupakan analisa salah dan tidak dibarengi dengan bacaan sejarah yang mumpuni.

“Jadi kalau ada orang mencurigai umat islam disebut kurang nasionalis wah itu kurang baca sejarah,” pungkas Lukman.

Sejarah di atas merupakan sejarah singkat dari perjuangan anak bangsa dalam mendirikan dan merumuskan negara, untuk lebih detailnya bisa baca buku berjudul “Jejak Para Tokoh Muslim Mengawal NKRI” karya Lukman Hakim, diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar.[tmm]