Selain terpelosok tanpa infrastuktur transportasi dan komunikasi, kampung Dulhani waktu itu juga masih dijangkiti budaya animisme.

 

Permintaan Dulhani dikabulkan oleh Bidang Diklat dan Da’wah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Pusat. Maka, sejak 2000, ia menjadi da’i di kampungnya yang terletak di perbatasan Baduy Dalam.

 

Dulhani membuktikan tekadnya membangun kampung halaman. Di sana, selain menjadi ustadz dan guru sekolah rakyat di Cibarani, ia juga menyempatkan diri membimbing masyarakat Baduy. Suku Baduy Dalam bermukim sekitar 1 km dari Cibarani, melalui jalan setapak.

 

Walau secara alamiah warga Cibarani Muslim, namun dalam keseharian nyaris tidak ada bedanya dengan warga Baduy. Sholat Jum’at misalnya, sampai tahun 2000 masih menjadi sesuatu yang asing bagi penduduk kampung tersebut. Bahkan juga bagi warga Kecamatan Cirinten. Kalaupun ada yang melaksanakan, itu dilakukan secara darurat. Tidak memenuhi rukun dan syarat yang diajarkan syari’at.

 

Secara perlahan, Ustadz Dulhani mengajak masyarakat agar menyadari kewajiban shalat Jum’at bagi laki-laki muslim. ‘‘Lamun teu daek sarolat mah jug jadi Baduy. Da nu tara shalat mah urang Baduy (Kalau tidak mau shalat jadi orang Baduy saja. Karena orang Baduy yang tidak shalat),”  tutur Dulhani membangkitkan ghirah masyarakat.

 

Ajakan itu semakin efektif ketika Ustadz Dulhani memperkenalkan syiar Qurban di Cibarani.  Pada tahun 2004, untuk kali pertama, warga Cibarani menyelenggarakan haflah Idul Adha, sekaligus mencicipi daging qurban. Sejak itulah mereka semakin bersemangat berislam.

 

‘’Qurban kiriman LAZIS Dewan Da’wah jadi senjata ampuh untuk mengajak  masyarakat mengamalkan ajaran Islam,’’ kata Dulhani.

 

Ia juga mendakwahi Suku Baduy. Hal ini dilakukan sambil membantu mereka menjual buah-buahan serta beragam aneka kerajinan tangan seperti golok dan angklung ke Cibarani.

 

‘’Alhamdulillah, terakhir ini lima orang Baduy sudah bersyahadat,’’ ungkap Dulhani belum lama ini.

 

Pada tahun 2010, Kampung Cibarani dimekarkan jadi sebuah desa. Dulhani, terpilih sebagai kepala desanya. Kekuasaan di tangannya ia gunakan untuk semakin meningkatkan kesejahteraan warga.

 

Kini, di Cibarani, masjid yang semula cuma satu, sudah menjadi 5 buah. Selain untuk sholat lima waktu, masjid-masjid itu juga dimakmurkan dengan sholat Jum’at, pengajian ibu-ibu dan anak-anak, serta pengajian bapak-bapak.

Di bawah kepemimpinan Ustadz Dulhani yang bersahaja, Cibarani akhirnya kemasukan aliran listrik dari PLN. Ini membuat warga desa melek informasi melalui televisi.

 

Cibarani yang semula terisolir pun terbuka dengan pembangunan jalan batu. Jalan sejauh 28 km ini dikerjakan secara gotong royong, menyusuri punggung bukit terjal, menuju kota.

 

Lurah Dulhani juga mendapat apresiasi, karena berhasil menunaikan amanah Badan Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana, Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Lebak dalam proyek pembangunan kantor desa dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.

 

Kantor Desa Cibarani dibangun dengan dinding batu kali. Bukan batu bata seperti desa-desa lain. Sebab, mendatangkan batu bata dan semen, mahal harganya. Maka, Dulhani mengajak masyarakat memanfaatkan sumber daya alam di desanya.

 

Sebenanrnya bukan penghargaan pribadi yang Dulhani harapkan, namun perhatian pemerintah dalam pembangunan infrastruktur fisik dan spiritual warganya.

 

“Desa ieu teh da sarua bagian Indonesia, tapi da siga nu can merdeka. Komo baheula mah. Harepan mah Desa ieu ge diperhatikeun siga desa nu sejena, jalan sakieu panjangna masih butut can diaspal. Terus, kahayang mah pemerintah teh ngabantu dina hal kaagamaan. Saparti nyieun wisma jang masyarakat Baduy nu arasup Islam. Aya pembinaan saanggeus arasupna Islam,” tutur Kades Dulhani.

 

Dalam Bahasa Indonesia ia mengatakan, ‘’Desa ini kan sama bagian dari Indonesia, tapi ternyata seperti berada di negara yang belum merdeka. Apalagi waktu dulu. Harapan saya desa ini juga diperhatikan seperti desa-desa yang lainnya, jalan begitu panjangnya masih jelek belum diaspal. Terus dalam bidang keagamaan, keinginan saya pemerintah ikut andil, seperti membuat wisma untuk masyarakat Baduy yang masuk Islam. Ada pembinaan khusus untuk mereka paska masuk Islam.” (ruslan/bowo)