Dalam rangka menyambut mahasiswa baru dan memperkenalkan kampus, STID Moh. Natsir menyelenggarakan kegiatan Masa Ta’arufan Mahasiswa (Mastama) Tahun Akademik 2017/2018.

Acara Mastama yang bertajuk, “Pengokohan Visi dan Misi Kader Da’I Ilallah Untuk Selamatkan Indonesia Dengan Dakwah” itu berlangsung di dua tempat, yakni di kampus B dan kampus C STID Moh. Natsir, Senin-Kamis (28-31/08/2017).

Ketua STID Moh. Natsir, Dwi Budiman, MA. dalam sambutannya mengatakan bahwa STID Moh.Natsir adalah salah satu lembaga pendidikan di bawah naungan dan bimbingan Dewan Dakwah. Dewan Dakwah mendirikan kampus ini dalam rangka menyiapkan para da’i. Kampus ini diarahkan bukan sekedar untuk menjadi lembaga pendidikan, namun juga lembaga kader da’i.

“STID Moh. Natsir bukan sekedar lembaga pendidikan, akan tetapi lebih dari itu ialah lembaga kader da’i, inilah yang membedakan dengan kampus lain” Ungkapnya

Pada kesempatan itu, ia juga menegaskan bahwa unsur yang terpenting dari gerakan dakwah adalah seorang da’i, tanpa adanya seorang da’i tidak mungkin sebuah gerakan dakwah dapat terlaksana, dengan kesadaran ini Dewan Dakwah mendirikan kampus STID Moh. Natsir.

Menurutnya dengan mengutip perkataan Pak Natsir dalam bukunya _Fiqhud Dakwah_, bahwa dakwah merupakan kewajiban untuk setiap muslim dan diwajibkan ada sekelompok orang yang mengkhususkan diri untuk melaksanakan amanah dakwah.

“Kalau diistilahkan sebuah pasukan, berarti semua muslim adalah pasukan dakwah, tapi harus ada di dalam pasukan dakwah itu komando pasukan khusus (Kopasus) yang disiapkan untuk melaksanakan amanah dakwah ini” Ujarnya

Jadi, tambahnya, jika semua kaum muslimin di luar sana adalah da’i, maka antum di sini adalah kopasus da’i, untuk itulah kita di STID disiapkan oleh Dewan Dakwah untuk menjadi kopasus da’i.

Lebih lanjut ia menerangkan dengan dalil dari al-Qur’an dan Hadits, bahwa dengan menegakkan dakwah, Indonesia dapat selamat dari azab Allah, namun apabila tidak ada orang yang siap mengemban amanah dakwah, maka Allah akan dengan mudah menimpakan azab kepada umat manusia.

“Boleh saja Mentri Keuangan Indonesia mengatakan selamatkan Indonesia dengan pajak dan Mentri yang lain mengatakan selamatkan Indonesia dengan prestasi olah raga, akan tetapi kita berdasarkan firman Allah dan sabda Rasulullah, selamatkan Indonesia hanya bisa dengan dakwah,” terangnya.

Oleh karena itu, lanjut pria yang juga dosen STID ini, dalam Islam tidak ada istilah sholeh sendirian, yang ada itu sholeh untuk pribadi dan shaleh untuk masyarakat.

Kemudian ia memotivasi calon mahasiswa baru agar senantiasa bangga menjadi da’i layaknya bangga ketika menjadi dokter.

“Harus sebangga kita mengatakan saya dokter, karena kalian adalah pemilik perkataan terbaik, sebagaimana Allah berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33),” seru pria yang juga alumni ke tiga STID Moh. Natsir.

Kegiatan Mastama ini diisi dengan berbagai daurah dan pengenalan seputar Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam memperjuangkan dakwah di Indonesia, STID Mohammad Natsir, dan Pesantren Mahasiswa STID Mohammad Natsir.

Di antara pemateri yang mengisi acara tersebut adalah Dr. Mohammad Noer, Amlir Syaifa Yasin, MA, Abdul Wahid Alwi, MA, dan sejumlah pimpinan STID Mohammad Natsir. (AM)

Humas Dewan Dakwah