Kongres ini bertemakan “Penguatan Peran Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya Umat Islam untuk Indonesia yang Berkeadilan dan Berperadaban”.Sebagai penyelenggara, Ketua Umum MUI Din Syamsuddin mengatakan bahwa diselenggarakannya KUII VI ini mengulang kembali sejarah kongres yang sama di Yogyakarta pada 1945. Momen ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan komitmen umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selanjutnya Din Syamsuddin mengatakan pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi Kongres Umat Islam VI tak lepas dari sejarah Kongres II yang dinilai paling monumental.“Karena pernah menjadi tuan rumah kongres pada 1945,” katanya dalam pidato pembukaan di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Senin, 9 Februari 2015. Ia mengatakan ada dua kongres yang dinilai paling monumental, yang pertama dan kedua.

Kongres pertama berlangsung pada 1938 dan mengukuhkan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Majelis itu merupakan payung bagi organisasi-organisasi Islam di Indonesia kala itu.Adapun kongres kedua, berlangsung di Yogyakarta pada 1945, menghasilkan putusan yang monumental juga. Peserta kongres memutuskan membentuk Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masjumi), partai tunggal Islam di Indonesia.

Pada pemilihan umum 1955, partai ini merupakan salah satu peraup suara terbesar. Sepanjang pemerintahan Orde Baru, kongres tak berlangsung.Hingga pasca-Reformasi, kongres ketiga digelar pada 1998. Adapun kongres keempat berlangsung pada 2005. “Maka kali ini, ke Yogya kita kembali,” katanya di depan peserta kongres. Maka dari Kongres VI di Yogyakarta kali ini, ia berharap, bisa menghasilkan dokumen sejarah baru laiknya kedua kongres paling monumental, pada 1939 dan 1945. “Apa pun namanya,” katanya.

Saat ini, ia melanjutkan, sejumlah usulan nama untuk dokumen itu telah muncul. Dua di antaranya Komitmen Yogyakarta dan Deklarasi Yogyakarta. Yang penting, dokumen baru itu menegaskan bahwa negara Indonesia adalah buah dari jihad umat Islam.Kongres Ummat Islam Indonesia (KUII) VI di Yogyakarta melahirkan beberapa butir rekomendasi yang disebut Risalah Yogyakarta.

Risalah itu dibacakan langsung oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Prof. Dr Din Syamsudin dalam pidato penutupan KUII Ke-VI di Ballroom Hotel Inna Garuda Yogyakarta, Rabu (11/02/2015) Pagi.

Risalah itu berisi 7 butir, salah satunya untuk dijadikan rujukan bagi umat Islam di Indonesia dalam menjaga, mengawal, membela, mempertahankan dan mengisi negara Indonesia berdasar wawasan Islam rahmatan lil alamin dan washatiyah dalam semangat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah bashariyah sebagai ciri Islam Indonesia yang berpaham ahlus sunah wal ajama’ah.

Kongres ini juga menghasilkan sebuah rekomendasi yaitu membentuk satu lembaga badan pekerja kongres atau Majelis Syuro yang akan menindak lanjuti hasil-hasil kongres ini agar tidak hanya berhenti sebatas keputusan. Diharapkan juga kongres berikutnya dapat terlaksana sebelum Pemilu 2019. (red/berbagai sumber)