Jakarta (11/12/2014), Rombongan ibu-ibu datang dari berbagai wilayah sekitar Jakarta, seperti daerah Pramuka, Depang, Senen dan Sunan Giri ke Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Kramat Raya 45. Mereka datang untuk memberikan testimoni Kristenisasi terselubung yang diadakan di Gelora Bung Karno (atau Senayan) sabtu (8/11). Hadir sebagai tuan rumah, Drs. H. Amlir Syaifa, MA dan Ust. Zahir Khan SH. Dipl. T.E.F.L

Mata pencarian ibu ibu tersebut adalah pemulung dan dari situlah mereka menggantungkan pendapatan harian. Lingkungan tempat tinggal terpencil, lemah pendidikan dan tak terjangkau oleh da’i untuk membimbing keIslaman mereka. Hal ini dibaca cerdas oleh kalangan Kristiani yang tak acuh terhadap undang-undang negara tentang larangan memperluas atau menyebarkan agama kepada orang yang sudah memiliki agamanya sendiri, sebagaimana termaktub di RUU-KUB 2011 pasal 46. “Kristenisasi  yang mereka sebar dengan berbagai cara ini didasari atas ajaran Bible Korintus 6 ayat 12 yang menghalalkan variasi metode baik santun, paksaan atau anarkis”. Kata Ust. Drs. H. Zahir Khan SH. Dipl. T.E.F.L. yang juga menemani pertemuan ini.

Menurut pengakuan ibu-ibu, pada awalnya daerah-daerah tersebut diatas didatangi oleh dua pemuda kira-kira berusia kepala tiga untuk memberikan bimbingan belajar non formal untuk anak-anak usia SD. Kedua pemuda ini biasa disebut Kak Yudi dan Kak Wawan (sebagian kecil oknum). Hingga masyarakat sekitar tak asing dengan rupa mereka.

Sebulan berlalu mereka mengabdikan diri untuk mengajar anak-anak itu hingga tampak hakikat misi terselubung mereka yaitu Kristenisasi. Atas nama pesta rakyat undangan itu melayang kepada para wali peserta didik di daerah-daerah yang mereka mengajar di sana, tertanggal sabtu 8 November 2014. “Katanya sih mau dibagikan sembako gratis” kata salah seorang ibu.

Setiap satu daerah yang datang ke tempat undangan pesta ada yang tiga sampai empat bis metro mini rombongan, dan menurut penuturan salah satu ibu undangan hadir mencapai 2000 orang.

Di acara itu terdapat panggung yang pembawa acaranya sambil memanjatkan doa kepada Yesus Kristus dia juga meminta para hadirin untuk mengepalkan kedua tangan di depan dada. Dan Haleluya bergema nyaring. Semua panitia acara itu yang berada di bawah panggung memaksa para hadirin untuk mengepalkan kedua tangan di depan dada dan berdoa ala Kristiani sambil diurapi minyak tangan-tangan mereka.

“Banyak juga yang beragama Islam dan yang berkerudung ikut acara ini yang juga dipaksa berdoa versi Kristen” kata salah seorang ibu.

Rombongan pesta rakyat palsu ini terlantar dari jam 12.00-21.00 WIB, “kami kelaparan, memang dikasih nasi bungkus tapi kering dan dagingnya berjamur sehingga kami tak selera makan”. Kata ibu koordinator rombongan ini. Sehingga rombongan ini berangkat dan pulang dengan ongkos sendiri.