Saat itu hari masih gelap para ayah sudah terlelap, ibu sedang asyik mengeloni bayinya dan ternak-ternak senyap dalam kandangnya.

Waktu itu tepat pukul 01.00 WIB ketenangan kota diusik oleh tapak-tapak kaki yang berlarian di luar rumah. Tak lama setelah itu suara gemuruh menyusul, apakah ternak-ternak itu kabur dari kandangnya dan mengejar majikannya? Ya Allah ada apa ini.

Rupanya suara itu berasal dari arah aliran sungai, ya sungai Cimanuk sedang meluap dan memburu orang-orang yang berlarian itu.

Ratusan rumah terendam menyisakan atap genteng sebagai tempat duduk pengungsi menunggu datangnya pahlawan kemanusiaan siapa tahu sebentar lagi mereka datang.

Tetesan air mata tak dapat membendung kesedihan hilangnya seorang anggota keluarga yang terhanyut ombak bandang.

Tapi, tidak mungkin Allah menurunkan ujian lebih berat daripada kemampuan hambaNya, pasti usai bencana ini ada hikmahnya karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Banjir Terparah Sepanjang 50 Tahun

Banjir Bandang menerjang daerah Bayongbong, Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, Banyuresmi, Karangpawitan, Kabupaten Garut pada Rabu (21/9/2016) pukul 01.00 Wib. Hal ini disebabkan meluapnya Sungai Cimanuk dan Sungai Cikamuri secara cepat menyebabkan banjir bandang hingga ketinggian 1,5 – 2 meter.

Berdasarkan pantauan terakhir dewandakwahnews, korban meninggal mencapai 23 jiwa dan 18 orang hilang.

Dalam keterangan pers Juru Bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (22/9/2016), Kepala BNPB Willem Rampangilei, telah melaporkan langsung perkembangan penanganan bencana banjir bandang di Garut kepada Presiden Jokowi. Upaya tanggap darurat di bawah pos komando masih terus dilakukan hingga hari ini. Salah satunya pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana, seperti permakanan, hunian, dan air bersih, detik melaporkan.

Musibah banjir Garut kemarin menurut lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Indonesia dianggap terparah sepanjang sejarah. Tepatnya terparah sepanjang 50 tahun terakhir.

Longsor Sumedang

Sementara itu, pada waktu hampir bersamaan, terjadi longsor di Desa Cimareme, Kecamatan Sumedang Selatan, Sumedang, Selasa (20/9/2016) pukul 22.00 WIB sehingga memutus jalur Bandung-Sumedang-Cirebon di Jalan Raya Ciherang jalur Cadas Pangeran, dilansir viva.co.id.

Seorang ibu dan dua anaknya menjadi korban longsor di Desa Cimareme, Sumedang, Jawa Barat. Ketiganya tak dapat menyelamatkan diri saat longsor menimbun rumah mereka.

Metrotvnews memberitakan longsor menimbun 2 unit rumah menyebabkan seorang ibu dan dua anaknya tewas tertimbun, hingga saat ini pencarian korban masih dilakukan.

rumah-ambruk-tertimbun-longsor-di-sumedang-metrotv

longsor di sumedang menimbun rumah warga

Dilaporkan, kebutuhan mendesak saat ini adalah dana siap pakai untuk operasional penanganan darurat. Beras dan makanan diperlukan untuk penanganan pengungsi hidayatullah.com melaporkan.

“Masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan dari ancaman banjir dan longsor. Hujan akan terus meningkat hingga puncaknya Januari 2017 mendatang,” demikian Sutopo.

La Nina, dipole mode negatif dan hangatnya perairan laut di Indonesia, jelasnya, menyebabkan hujan melimpah, lebih besar dari normalnya sehingga dapat memicu banjir dan longsor.

Inilah KuasaNya

Di antara bangunan dan infrastuktur yang porak poranda akibat banjir bandang Kabupaten Garut, ada satu bangunan yang kendati berletak di bibir sungai Cimanuk, namun sama sekali tak tersentuh banjir bandang tersebut, dilansir dari Islampos.

Bangunan itu Pondok Pesantren Salafi Al-Qodar. Berlokasi di bibir sungai Cimanuk ( 10 meter-Red) tepatnya di Kampung Lebak Siuh, Kelurahan Muara Sanding, Kecamatan Garut Kota teu regrog-regrog, Pesantren ini tetap kokoh berdiri.

Sementara di sekitar Ponpes tersebut porak poranda bahkan jembatan yang menghubungkan ke Ponpes ambruk tergerus derasnya air.

“Berkat pertolongan Allah SWT, pesantren kami tidak tersentuh bencana banjir bandang sungai Cimanuk,”ujar pendiri sekaligus pemimpin Pondok Pesantren Al-Qodar KH. Abdul Qadar Rusman (54).

Abdul Qodar mengimbau musibah yang menimpa Kabupaten Garut harus disikapi dengan arif.

“Allah sedang menegur kita, dan pasti ada hikmahnya.” imbuh Abdul Qodar.

ponpes-al-qodar-islampos

ponpes Al Qodar

“Agar kita peduli terhadap alam, terutama untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup, menggalakkan reboisasi agar hutan tetap rimbun dan ijo-ijo royo.”

Abdul Qodar kemudian menandaskan dengan membacakan Ayat 23 surat Thaha, “Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.”

Ed: Tamam | dari berbagai sumber