ustaz-wahid-alwi2Menghadapi pergantian tahun baru Hijriah, Wakil Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ustadz Abdul Wahid Alwi mengatakan lembaganya akan fokus mendakwahkan aspek aqidah.

“Secara global, ke depan kita pemantapan aqidah,” katanya kepada kiblat.net pada Rabu (14/10) di Jakarta.

Menurut dia, munculnya berbagai masalah di masyarakat karena masalah aqidah belum mendapat porsi yang ideal. Dewan Dakwah mengkaji masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan, ketika membicarakan Islam lebih banyak memberikan porsi besar kepada pembahasan fiqh.

“Pada dasarnya, Fiqh adalah Islam itu sendiri atau syariat. Tapi, dalam disiplin ilmu ulama membagi-bagi, ada masalah aqidah, akhlak, dan fiqh ibadah. Di masyarakat seringkali fiqh ibadah mendapat porsi lebih besar, sementara fiqh ini mengandung banyak khilaf baina ulama. kemudian kita banyak memberikan perhatian kepada fiqh furuiyah (masalah cabang,red). Jadi, fiqh muamalah dan ibadah, tapi kita tidak paham fiqhikhtilaf. Padahal,  masalah khilaf itukan ada fiqhnya juga,” terang Ustadz Alwi.

Sementara, lanjut Ustadz Alwi, permasalahan fiqh dalam disiplin ilmu berada pada urutan secondary. Persoalan yang fundamen, adalah masalah aqidah Islamiyah, pendalaman tauhid, dan upaya berhati-hati dengan masalah syirik baik akbar ataupun ashgar.

“Nanti, aqidah perlu kita kaji lebih dalam dan diaplikasikan dengan kondisi umat Islam di Indonesia. Pengembangannya dengan bil hikmah mauizhah wal hasanah,” ungkapnya.

Program-Program Dewan Dakwah

Lanjut Ustadz Alwi, dalam bentuk konkrit program dakwah Islamiyah yang sedang dijalankan lembaganya adalah program dakwah di pedalaman dan daerah-daerah terpencil. Program ini adalah warisan pendiri Dewan Dakwah, Muhammad Natsir.

“Itu konsentrasi yang tidak akan berubah,menjadi program baku dan kontinuitas,” ujarnya.

Program dakwah pedalaman DDII sendiri, sudah tersebar hampir di seluruh Indonesia. Seperti di Kalimatan, Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan Papua. Untuk wilayah timur, saat ini fokus di NTT dan NTB.

“Dulu kita konsentrasi tinggi di Timor Timur untuk wilayah timur, tapi karena sudah merdeka fokusnya berubah,” ucapnya.

Adapun program pendidikan, Dewan Dakwah fokus kepada konsep pendidikan kader. Lembaga-lembaga pendidikan dari sekolah dasar hingga Sekolah tinggi diarahkan sebagai lembaga pengkaderan. maka dari itu, DDII membangun Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) sebagai pusat pengkaderan dai. Kemudian, dilengkapi dengan Akademi Dakwah Islamiyah (ADI) sebagai lembaga pendidikan di bawah STID yang akan membantu pengkaderan dai tingkat mahasiswa di daerah-daerah. Rencananya, akademi dakwah akan didirikan di tiap kabupaten dan kotamadya di seluruh Indonesia.

“Saat ini, baru sepuluh akademi dakwah,” cetus Ustadz Alwi.

Terkait program ekonomi, DDII baru memantapkan pemberdayaan secara internal. Untuk internal, pemberdayaan melalui LAZIS. Fungsi LAZIS selain mengumpulkan zakat, infaq, dan shadaqah, juga untuk membiayai pengiriman dai-dai ke pedalaman.

Dewan Dakwah juga memiliki Badan Wakaf, badan ini mengelola wakaf bersifat sosial dan komersial. Pengelolaaan wakaf sosial, umumnya dengan mendirikan institusi dan lembaga pendidikan di atas tanah wakaf tersebut. Sedangkan wakaf bersifat komersil atau investasi, dikelola dengan membangun bulding untuk disewakan, mendirikan percetakan, travel biro Haji dan Umroh.

“Jadi untuk saat ini masih bergerak di bidang proprti, travel biro, dan percetakan,” beber Ustad Alwi.

Dewan Dakwah juga berencana mengembangkan tanah wakaf untuk aspek komersial. “Kita kemungkinan mengembangkan ke bidang properti, karena secara investasi tahan goncangan. bangunan didirkan kemudian sudah tinggal disewakan, Resikonya lebih enteng dari selain properti,” tutup Ustadz Alwi. (adm/kbl)/ tabligh.or.id