‘’Tsunami’’ Sungai Cimanuk di Garut pada Selasa (20/9) malam, membuat belasan gedung sekolah kebanjiran dan ribuan muridnya telantar.

Menurut catatan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, sekitar 2.200 pelajar telantar pendidikannya akibat banjir bandang. Mereka merupakan murid dari 15 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA. Termasuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Qomar Tajug Kampung Cimacan, Kecamatan Tarogong Kidul, dan Sekolah Luar Biasa (SLB) C YKB Garut.

Para pelajar juga kehilangan seragam dan peralatan sekolahnya, baik yang di rumah maupun di sekolah masing-masing.

Mengingat pentingnya pendidikan, Ketua Umum Dewan Dakwah menginstruksikan agar Posko LAZIS Dewan Dakwah Peduli Garut dan Sumedang memrioritaskan program pendidikan.

‘’Selenggarakan pendidikan alternatif darurat dan sediakan seragam serta perlengkapan sekolahnya. Anak-anak tidak boleh berhenti sekolah,’’ tutur Moh Siddik, Ketua Umum Dewan Dakwah.

Ahmad Agung, Ketua Posko LAZIS Dewan Dakwah Peduli Garut, memaparkan, program poskonya fokus pada distribusi logistik berupa makanan siap santap, pakaian, dan dropping air minum, serta pendidikan anak.

Sasaran distribusi logistik adalah titik-titik pengungsi dan posko-posko bantuan.

Sedang program pendidikan meliputi gotong royong membersihkan areal sekolah dan pemberian bantuan perlengkapan sekolah yang dikemas dalam Paket Bebungah Barudak Garut. Paket berupa tas berisi seragam, sepatu, dan alat tulis.

‘’Agar anak-anak tetap senang dan bersekolah dalam kondisi darurat, kami juga menyelenggarakan Sekolah Hatiku Senang. Materinya lebih banyak berupa trauma healing dalam format dongeng dan games,’’ jelas Agung.

Program-program Posko LAZIS Dewan Dakwah itu digerakkan oleh para relawan dari Badan Eksekutif Mahasiswa STID (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah) M Natsir Jakarta, Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Barat, LSM Creavill Garut, komunitas mahasiswa psikologi Garut ‘’Ruang Mengabdi’’,  dan Tim LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Bandung Raya.

Sasaran program pendidikan Posko LAZIS Dewan Dakwah antara lain SMP dan SMA PGRI Kampung Lema, MI Al-Qomar Cimacan, dan anak-anak pengungsi di Jayawaras, Haur Panggung serta Sumedang.[nurbowo]