Jumat  sore 12 Desember 2014, yang dikhawatirkan Kuswanda terjadi. Bukit itu longsor dengan kecepatan tinggi. Material luncurannya mengarah ke barat, melompati jalan raya Karangkobar-Banjarnegara, terhadang sungai kecil yang sedang meluap, luncuran berbelok ke arah selatan mengikuti  kontur  bebukitan di kawasan itu.

Saya mendengar suara gemuruh, rumah bergoyang-goyang, genting berjatuhan, dan tiba-tiba dinding rumah retak-retak. Saya langsung mengungsi bersama anak istri, di luar, warga kampung berlarian panik meninggalkan Gintung  ke atas (ke arah barat, menuju pusat kecamatan Karangkobar). Waktu itu saya tidak tahu kalau Dusun Jemblung yang berada di sebelah timur kampung habis dilanda longsor, ungkap Kuswanda.

Tanah longsor, banjir, terban (tanah amblas) memang menghias kawasan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo pasca hujan deras berkepanjangan itu.  Di Wonosobo, sebuah resto Soto dekatterminal lama, amblas tertelan bumi sedalam 10 meter. Sungai Serayu meluap sampai ketinggian 8 meter dari permukaan normal, menghanyutkan dua jembatan gantung, merusak ratusan hektar areal persawahan dan perkebunan di bantaran sungai dan tempat-tempat wisata arung jeram yang berada di jalur hijau daerah aliran sungai (DAS) Serayu. Jalan-jalan kecamatan yang melintasi kawasan perbukitan juga banyak yang putus tertimbun longsoran tebing.

Di Banjarnegara hal serupa terjadi, yang paling parah adalah longsornya bukit di atas Dudun Jemblung, Desa  Sampang, Karangkobar. Rilis resmi yang disampaikan Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif pada Sabtu (13/12) terdapat 38 rumah warga yang lenyap tertelan longsoran. Korban meninggal diperkirakan berjumlah 108 orang warga dusun Jemblung.  Sebanyak 20 jenazah korban sudah berhasil dievakuasi hingga Sabtu (13/12) pukul 18.00 wib. 88 korban lainnya masih dalam pencarian. 

Angka itu kemungkinan besar bertambah oleh korban pelintas jalan pada saat bencana terjadi.

Relawan LAZIS Dewan Dakwah menemukan beberapa unit mobil berisi belasan penumpang yang turut tertimpa longsoran. Sebuah mobil Carry Real Van yang terpental hingga 300 meter dari jalan raya, menurut tim BNPB yang di lapangan berisi 12 orang, 4 berhasil diselamatkan dalam kondisi kritis, 8 sudah meninggal  saat dievakuasi.

Korban selamat mencapai ratusan KK, data valid belum bisa diperoleh. Pengungsian besar-besaran memang terjadi karena BNPB menginstruksikan warga di kawasan bencana dalam area 25 ha sampai 30 ha diharuskan mengungsi. Duapuluh lima sampai tigapuluh hektar  di sekitaran ground zero kami tetapkan sebagai kawasan rawan dan warga di dalamnya harus mengungsi, kata Syamsul Maarif, Duabelas kecamatan di Kabupaten Banjarnegara kami indikasikan rawan bencana dan masyarakat harus selalu waspada jika hujan terjadi terus-menerus, tambah Syamsul.

Korban dari Dusun Jemblung yang meninggal dan luka dievakuasi di Puskesmas Karangkobar dan beberapa rumah sakit di Banjarnegara.  Sementara pengungsi ditempatkan di berbagai lokasi penampungan, di antaranya ditempatkan di Kantor Kecamatan, SMAN 1, Balai Desa, dan SDN Ambal, Karangkobar. Banyak pengungsi memilih pindah ke rumah saudara atau kerabat di desa-desa sekitar yang relatif aman.

Saya tidak tahu harus ke mana, disuruh ngungsi nggih manut mawon, kata Jupri (42), warga kampung Tekik yang terletak di kawasan wajib mengungsi. Ia dan keluarganya diungsikan ke kantor kecamatan Karangkobar.  Ndak tahu sampai kapan, tapi kalau lama-lama ya tidak betah. Saya mau segera pulang ke rumah, saya berani. Kasihan itu anak dan istri, lanjut Jupri sambil menunjuk pada istrinya Jimah (40) yang sibuk menenangkan Dika (5), putra bungsu mereka yang terus menangis.

Selain korban manusia, korban harta diperkirakan sangat besar walau belum ada data resmi yang dikeluarkan Satkorlak BNPB.

Sebuah masjid yang semula berada di tepi barat jalan di Dusun Jemblung serta sebuah mushola juga lenyap. Sejauh mata memandang, tidak ada lagi bangunan tersisa di Jemblung. Satu-satunya rumah yang masih tegak dan kerusakannya relatif ringan adalah rumah kayu yang berada di ujung selatan kampung.

Itu rumah ustadz, kata Agus (30), warga Jemblung yang selamat dan tengah berada di sekitar lokasi bencana.

Ustadz siapa Gus?

Begitu dikejar dan disorot kamera,  keberanian Agus yang beberapa saat menjadi pemandu relawan Dewan Dakwah langsung lenyap.

Nanti.. saya panggil Pak Marmo saja yang lebih tahu Agus berendap, mundur, berbalik, lalu lari menjauh. Lho?

Gus, Gus.  Tapi Agus terus berlari, menghilang. Apa boleh buat, relawan harsu mencari tahu kepada warga lain lagi.

Menurut Relawan LAZIS Dewan Dakwah, saat ini bantuan natura yang paling urgen antara lain kasur lantai atau kasur lipat. Banyak balita tidur di lantai beralas karpet tipis di lokasi pengungsian, lapor relawan. Kebutuhan lain adalah dan susu balita dan anak-anak. 

Ketua Umum Dewan Dakwah Ustadz Syuhada Bahri menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban longsor tersebut. Ia mengajak kaum muslimin untuk turut meringankan beban korban yang masih hidup. Siapa yang meringankan derita saudaranya, maka Allah akan menolongnya, kata Ustadz Syuhada mengutip pesan sebuah hadits. (joko windoro)