Madrasah Ghazwul Fikri Dewan Da’wah bekerja sama dengan Pusat Informasi dan Dokumentasi Indonesia Tamaddun menyelenggarakan diskusi sejarah bertema “Pentakfiran Pemikiran dan Perjuangan M. Natsir” pada Kamis (1/9/2016) di lantai 6 Gedung Menara Da’wah Dewan Da’wah Pusat, Jakarta.

Hadir sebagai pemateri, Ir. Ahmad Nurhono, Msc (Instruktur training Nasional PB PII & Murid Prof. SM. Naquib Al Attas) dan H. Teten Romly Qomaruddien, MA (Mudir Madrasah Ghazwul Fikri Dewan Da’wah)

Kata Nurhono, Layaknya di balik sebuah pohon tinggi terdapat akar yang kuat. Nah, di balik kebesaran seseorang yang luar biasa, dalam studi tokoh maka yang perlu dilakukan adalah mengenali Master Idea (gagasan besar) sang tokoh, termasuk DR. Mohammad Natsir.

Dalam worldview (falsafah hidup) Pak Natsir, Nurhono melanjutkan, tertanam dua aspek yang sangat kuat, yaitu falsafah Tauhid dan falsafah adab, sehingga seluruh karya Natsir yang berasaskan falsafah Tauhid, termasuk perjuangannya di kelas nasional dan internasional.

“Falsafah Tauhid dari atas ke bawah, sedangkan falsafah adab dari bawah ke atas,” ujarnya sambil menjelaskan kata “atas” adalah Allah dan “bawah” adalah manusia.

Kemudian Nurhono menjelaskan, konsep berfikir dalam Islam menurut para Ulama adalah memberi makna terhadap sesuatu yang telah diketahui kemudian dimanfaatkan untuk memecahkan masalah-masalah baru, contohnya, bagi orang yang mengenali Pak Natsir akan melihatnya sebagai pemersatu ummat, pejuang da’wah, pemikir islamisasi pendidikan dan lain sebagainya.

Menariknya, kata Nurhono, Pak Natsir dengan islamic worldview-nya sangat berbeda dengan hasilnya lewat pendidikan formal Belanda. Sebabnya, pendidikan informal yang ditimba dari tokoh-tokoh Islam yang ditimbanya usai jam pelajaran formal sangat mendominasi cara pandang hidupnya.

Melalui penelitian Prof. Dr. Alparslan Acikgence soal tahap-tahap pembentukan worldview seseorang, Nurhono menjelaskan bahwa usia anak SD dan kebawah adalah Initial Process of Worldview Formation (proses awal pembentukan worldview) kemudian tahap selanjutnya adalah The State of Worldview (pembentukan worldview) Pak Natsir sampai pada tahapan ini saat usianya SMP-SMA. Kemudian The State of Knowledge Structure (struktur pengetahuan) Pak Natsir matang saat bergabung dengan institusi Jong Islamieten Bond (JIB), karena dari JIB inilah Pak Natsir bertemu dengan tokoh-tokoh luar biasa.

Saat menginjak usia SMA di Bandung dia bertemu A. Hassan, salah satu Ulama Nusantara yang darinya konsep-konsep Islam dan keIslaman dikembangkan.

Hebatnya, lanjut Nurhono, usai SMA, Natsir mendapat beasiswa untuk kuliah di Belanda untuk meraih gelar Meester in de Rechten (gelar ahli hukum) tapi dia tolak untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan hak-hak orang Islam.

Dari keputusan itulah, Pak Natsir nantinya menjadi negarawan Muslim sekaligus pahlawan tanah air yang diakui dunia.

Oleh karena keputusan besar tersebut, Teten mengutip tulisan Pak Natsir, apapun profesi seorang hamba Allah dari pangkat dan gaji tertinggi sampai terendah jika hal tersebut dilakukan untuk Islam maka kurang sempurna tanpa dibarengi dengan sholat malam. Karena dari sholat malam, Bashiroh (mata hati) akan terbuka sehingga dapat melihat semua permasalahan dengan cerdas.

“Mau da’i mau politikus mau apa saja yang berkiprah untuk Islam, dia jarang sholat maka kurang pembacaan jiwanya, karena sholat malam bagi aktivis adalah indera ke enam yang mampu menghidupkan jiwa,” ujar Teten mengutip perkataan Pak Natsir.

Kata Teten, semua orang hari ini tidak akan kenal dengan ‘wajah’ Pak Natsir kecuali melalui gambar-gambar yang tersebar di banyak sumber tapi jika ingin mengenal ‘wijhah’ (sosok) adalah dengan mempelajari karya-karyanya dan literatur kesejarahan yang ditulis oleh para sejarawan. Dan dari karya-karyanya pula pembacanya akan kenal dengan worldview Pak Natsir.[tamam]