Satu hal yang tidak boleh dilupakan juga adalah Prawoto Mangkusasmito sebagai Ketua Masjumi terakhir yang memikul tanggung jawab yang sangat berat ketika Masjumi dihadapkan kepada dua pilihan antara dibubarkan atau membubarkan diri dalam pidato yang disampaikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1960.

 

 

 

Sebuah ultimatum diberikan dalam tempo satu bulan yakni sampai dengan 17 September 1960 agar Masjumi membubarkan diri atau dibubarkan. Itulah masa-masa yang sangat berat bagi Prawoto, karena Masjumi telah mengukir sejarah tinta emas didalam perjalanan bangsa ini.

 

 

 

Pada saat itu nasib dan watak Masjumi tergantung kepada sikap Prawoto seorang. Pada paruh tahun 1959 itu pemimpin-pemimpin Masjumi yang lain tidak ada di Jakarta. Beberapa diantaranya seperti Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap sedang berada dihutan-hutan Sumatera, mereka dituduh sebagai pemberontak.

 

 

 

Kalau pada waktu itu Prawoto bersikap bimbang, niscaya citra orang tentang partai Masjumi tidak akan seperti sekarang. Prawoto melakukan konsultasi dengan para anggota di daerah dan dengan intensif ia mengunjungi para pemilih atau pendukung Masjumi untuk menentukan sikap. Masjumi memilih membubarkan diri daripada mengikuti Manipol Usdek buatan Soekarno dengan semangat otoriternya yang telah begitu akrab dengan Partai Komunis (PKI) ketimbang dibubarkan oleh pemerintah.

 

 

 

Dengan inisiatif Prawoto bersama Mohammad Natsir, jauh sebelum Masjumi dibubarkan, mereka telah memikirkan penyelamatan asset-asset Masjumi diberbagai daerah dengan membentuk yayasan-yayasan seperti YPU, YAPI atau nama lainnya didaerah dan sekaligus asset-asset tersebut dimanfaatkan sebagai pusat-pusat pendidikan, pengkaderan atau pelatihan seperti asset Masjumi di Kramat Raya 45 Jakarta, yang kini menjadi kantor Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, asrama mahasiswa Sunan Giri di Rawamangun Jakarta yang pada tanggal 6 Januari yang lalu mengadakan seminar mengenang satu abad Prawoto Mangkusasmito, membahas alam pikiran dan jejak perjuangan Prawoto Mangkusasmito.

 

 

 

Satu hal yang menarik lainnya sisi pak Prawoto itu ialah beliau sangat concern membina anak-anak muda seperti dituturkan oleh Bapak Cholil Badawi pada seminar 6 Januari yang lalu bahwa Pak Cholil Badawi yang tinggal di Magelang sementara Prawoto pada waktu itu sudah menetap di Jakarta dan beliau meminta pak Cholil sebutan akrab bapak Cholil Badawi, yang pada waktu itu berusia 28 tahun agar datang setiap hari ke Jakarta dan bertemu dengan beliau, berdiskusi berbagai persoalan, tetapi tidak boleh bermalam di Jakarta, sorenya harus kembali, dan itu berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Saya pun tidak tahu, kata Pak Cholil, kenapa saya tidak boleh bermalam di Jakarta, ternyata dikemudian hari saya baru menyadari bahwa Yogyakarta atau Magelang tidak boleh ditinggal pada saat itu dalam situasi yang sangat kritis.

 

 

 

Seperti yang dituturkan oleh Bapak Ishom, dalam sebuah tulisan, yang kemudian adalah beliau menjadi suami ibu Sri Syamsiar, putri tertua Pak Prawoto, mengutip ucapan Pak Prawoto : “Saya kadang merasa kecewa terhadap tokoh-tokoh muda kita sekarang, hampir selalu kalau menghadapi persoalan datang ke saya dan kepada orang tua yang lain menanyakan pendapat kami para orang tua. Bukan untuk bertukar pikiran atau beradu argumentasi, melainkan biasanya untuk meminta instruksi. Mestinya, mereka itu mempunyai pendapat sendiri, jangan selalu tanya saja sama orang tua, padahal usia mereka rata-rata sudah diatas tiga puluh tahun. Dahulu waktu Soekarno berusia tiga puluh tahun, ia sudah menjadi pemimpin nasional, demikian juga Hatta, Sjahrir, Natsir dan pemimpin-pemimpin nasional lainnya. Mempunyai pendapat sendiri dan berani mengemukakan pendapat yang ia yakini benar dan bertanggung jawab terhadap segala akibatnya, tidak pernah tanya atau minta restu orang tua. Saya lebih suka melihat para pemuda yang bertindak atas prinsip dan pilihan sendiri dan berani berkata ”tidak..!” terhadap siapa saja termasuk kepada orang-orang yang selalu menanti instruksi. Pendeknya, saya lebih suka kepada pemuda yang berani berjalan sendiri”. Itulah antara lain prinsip pak Prawoto.

 

 

 

Saking sibuknya dengan ummat, putra terakhir pak Prawoto baru diberi nama Ahmad Basuki setelah enam belas hari lahir.

 

 

 

Dia dikenal dengan kehidupannya yang sederhana, konsisten, berani mengatakan kebenaran sekalipun pahit dan selalu berada ditengah-tengah ummat, bahkan sampai beliau wafat pada 24 Juli 1970 beliau sedang berada di sebuah desa di Banyuwangi Jawa Timur, ditengah-tengah jamaah yang dibinanya, jauh dari keluarga.

 

 

 

Sebagaimana tokoh-tokoh Masjumi yang lain, ia bisa berdebat keras dengan lawan politiknya, tapi dia dapat duduk satu meja diwarung kopi sebagai sesama anggota parlemen.

 

 

 

Tokoh yang lahir di Tirto (Grabag) Magelang 4 Januari 1910 ini terpilih sebagai Ketua Umum Masjumi terakhir pada Muktamar ke sembilan tahun 1959 di Yogyakarta. Pernah menjadi anggota Badan Pekerja KNIP, Wakil Perdana Menteri di era Mr. As’ad sebagai Perdana Menteri, Anggota DPR dan Wakil Ketua I Konstituante dan menjadi Ketua Umum Masjumi dikarenakan keadaan yang memaksa akibat perginya Mohammad Natsir dari Jakarta karena konflik dengan Presiden Soekarno dan keselamatan dirinya pun terancam, maka Prawoto dipercaya pimpinan Masjumi untuk menjadi Ketua Umum, walaupun masa kepemimpinannya tidak lama, tetapi tanggung jawab yang harus diemban sangat berat. Sebagai Ketua Partai terbesar kedua di Indonesia berdasarkan hasil Pemilu 1955 Prawoto menghadapi berbagai macam pertanyaan dan tekanan dari pemerintah Soekarno seputar keterlibatan beberapa tokoh Masjumi dalam PRRI di Sumatera Barat sehingga akhirnya Masjumi diminta membubarkan diri oleh pemerintah.

 

 

Amanat beliau yang sangat terkenal : ”Jangan Takut Berbuat Karena Takut Salah, Tetapi Takutlah Berbuat Salah”. (Drs. H. Amlir Syaifa Yasin, MA/Sekretaris Umum Dewan Da’wah)