Drs. Mohammad Siddik, MA ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menjelaskan bahwa penganut Komunisme dizinkan membunuh sejumlah besar penduduk negaranya asal terlahir generasi yang Pro Komunisme.

“Dalam Ideologi mereka tidak mengapa 85% penduduk negaranya mati asal yang 15% dapat menjadi penerus bangsa yang baru,” katanya dalam diskusi hasil kerjasama DDII dan PJMI yang berjudul “Tanggapan Atas Aksi Simpatisan dan Elemen Pro-PKI” yang diselenggarakan di Gedung Menara Da’wah Dewan Da’wah pada Selasa (24/5/2016)

Banyaknya bukti dan indikasi akan kebangkitan PKI atau KGB (Komunis Gaya Baru) saat ini, membuat Dewan Da’wah sadar untuk berkecimpung di dalamnya. Jika elemen masyarakat seperti gerakan kepemudaan melakukan aksi lapangan, maka Dewan Da’wah, kata Siddik dapat memfasilitasi khususnya di bidang kajian ilmiah nan strategis.

“Tidak dapat seperti anak muda yang reaktif, tapi kita dapat menfasilitasi dan menggelar kajian-kajian ilmiah khususnya tentang Komunisme dan PKI,”sambungnya.

Di Dewan Da’wah sendiri sudah terdapat bidang Ghazwul Fikri yang fokus gerakannya di bidang pemikiran dan gerakan sesat.

Kemudian Siddik menjelaskan bahwa dosa pembesar PKI dahulu tidak semerta-merta jatuh pada anak turunan mereka, karena dalam Islam tidak ada dosa warisan.

“Dalam Islam tidak ada dosa turunan, jadi anak cucu keturunan Komunis tidak berdosa atas perbuatan atau ideologi orang tuanya,” katanya sambil menjelaskan konten ayat ke 164 surat Al An’aam.

Siddik juga meminta Umat Islam untuk dapat menerima hal ini, jika fakta lapangan menunjukkan ada keturunan PKI yang bertaubat, namun jika belum ditemukan indikasi seperti itu maka tanggung jawab umat Islam juga untuk meluruskan para penggerak ideologi ini.[tamam]